PurwaCarita

Foto Saya
Purwacarita merupakan salah satu naskah wayang di Nusantara yang paling banyak di kenal orang selain Purwakanda, Serat Pramayoga dan Serat Kanda. Blog ini mengenai pembuatan serial animasi wayang yang diangkat dari naskah Purwa Carita. Saya mengerjakan sendiri mulai dari naskah, modeling, animasi, dll... Untuk itu jika ada kekurangan saya mohon maaf sebelumnya. (^____^)"

Sabtu, 20 November 2010

18 Dalang Cilik

Pamuji syukur kawulo haturake, tasik wonten karang ing taruna kang tresna dateng budaya jawi, mugio gusti kang paring kalanggengan lan kaslamatan ing budaya menika, inggih budaya jawi kang ka asma Ringgit Purwa.

Sumatera Utara


BAYU GUNAWAN
Putra ke 4 dari Bapak Sunadi Cermo Harsono dan Ibu Mintarsih ini lahir di Sidodadi, tanggal 14 Juni 1998. Pelajar Kelas 4 SD Inpres 014681 Kisaran ini ternyata pintar mendalang. Ayahnya adalah juga seorang dalang, jadi tidak heran jika bakat itu turun ke putranya. Semangatnya dalam mendalang tidak diragukan lagi. Itu terlihat dari keinginannya dalam mengikuti Festival ini.

Sumatera Selatan

JR. TRI SUSANTO
Ia dilahirkan di Tegal Sari / OKU Timur, 28 Januari 1995 dari pasangan Y Suparso dan MM. Lanjar. Ia adalah pelajar kelas 3 SMPN 1, Karang Melati Kabupaten OKU Timur. Ayahnya memiliki sanggar yang bernama Kembang Sore, dan yang mengajar mendalang adalahnya Ayahnya tercinta.

JAKARTA
BIMO SINUNG WIDAGDO
Ia lahir di Jakarta, 16 Mei 1995, dari pasangan Bapak Slamet Yugo Prasetyo dan Ibu Marningsih. Pada saat berumur 3 tahun, minatnya terhadap wayang kulit sudah terlihat, hingga ayahnya pun mengajarkannya untuk memegang wayang. Sampai sekarang minatnyapun tak surut. Ia sekarang duduk di kelas I SMP Cakra Buana Depok. Ia punya pengalaman mendalang yang cukup banyak, diantaranya mendalang dalam rangka HUT TMII, dan Hari Anak Nasional TMII, mendalang di tempat hjatan dan sunatan serta masih bayak lagi yang lainnya. Prestasinya jugacukup banyak, diantaranya temu dalang se-Jawa, mendapat nominasi Sabet, dan juara I Gong Show di Trans TV. Dan masih banyak lagi prestasi lainnya.

DANAN WISNU PRATAMA
 Putra dari pasangan Bapak Deni Sucipto dan Ibu Nessy Mexalita ini lahir di Jakarta 8 Mei 1999. Ia sekarang duduk di bangku kelas III SDN Tebet Timur 19 Pagi. Dari kecil kegemarannya dalam memainkan wayang sudah terlihat. Sehingga tidak heran jika ia berguru di sanggar yang cukup terkenal di Jakarta, diantaranya Istana Anak-Anak TMII, sanggar Sumbang Budoyo, sanggar Saeko Budoyo, sanggar Nirmalasari dan sanggar Redi Waluyo. Hal itu membuat Ia semakin mempunyai kesempatan dan pengalaman yang cukup banyak untuk pentas, diantaranya tahun 2006, 2007 dan 2008 mendalang di Istana Anak-anak dalam rangka HUT TMII, dalam rangka Hari Naka Nasional. Pentas di Wijaya Carnaval, pentas di FIFO RESTO, pentas di JCC dalam acara Pekan Budaya, dan masih banyak lagi pengalaman yang dimiliki oleh Danan. Prestasinya juga cukup banyak, diantaranya mendapat piagam penghargaan sebagai dalang “Sanggit” di Taman Budaya Surakarta, pentas dihadapan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Hari Anak Nasional dan lain-lain.

DWI ADI NUGROHO
Putra dari Bapak Asman Budi Prayitno dan Ibu Bawon ini sangat mahir sekali didalam memainkan wayang kulit. Ia lahir di Jakarta, tanggal 5 Oktober 1995, dan Ia sekarang duduk di kelas VI SDN Pondok Labu 08 Jakarta Selatan. Kebetulan ayahnya adalah seorang dalang, sehingga Ia tidak kesulitan didalam mencari guru mendalang. Ia belajar di sanggar Nirmalasari Cinere. Dari kecil Ia sudah dikenalkan dunia wayang oleh orang tuanya. Berkat ketekunannya dalam berlatih mendalang, maka Ia pun mempunyai pengalaman pentas yang cukup banyak, diantaranya : di Manggala Wana Bakti, GOR Puri Kembangan, Anjungan Jawa Tengah TMII, Hotel Sahit, Hotel Kartika Candra, dan masih banyak lagi. Ia pernah mengikuti Temu Dalang Cilik se- Jawa Tengah dengan meraih gelar Cucut. Dan Ia pernah mendalang disaksikan oleh Dirjen Kominfo yaitu Bapak DR. Ir. Basuki Iskandar MA dalam peluncuran majalah Wayang.

DIO MAULANA AKHIRWAN
Bocah kelahiran Jakarta, tanggal 14 November 1997 ini adalah putra dari Ir. Eddy Akhirwan MT. Ia duduk di kelas 4 SD Laboratoriun Jakarta. Ia belajar mendalang dari Bapak H. Margono. Walaupun Ia bukan keturunan orang Jawa, tapi Ia tetap ingin belajar mendalang. Hal itu Ia buktikan dengan mengikuti Festival Dalang se-Jawa Solo, dan masuk nominasi Sanggit.

YOSEF SIGIT PANGESTU AJI

Putra dari pasangan Agustinus Jaka Untara, SPd dan Yustina Y, SPd ini lahir di Bogor, tanggal 22 September 1994. Ia sekarang duduk di kelas 2 SMP II Jonggol. Ia mengikuti diklat di Istana Anak-Anak TMII. Ia baru belaja mendalang 2 tahun yang lalu. Walaupun begitu, Ia tidak kalah dengan teman-temannya yang telah lama belajar mendalang. Ia mempunyai pengalaman yang cukup banyak mendalang didalam mendalang. Diantaranya adalah ikut memeriahkan HUT TMII dengan pagelaran dalang bocah pada tahun 2006 sampai dengan 2008.


YUSSTANZA RAZALI

Ia lahir di Jakarta, tanggal 19 Juni 1996, dan Ia sekarang telah duduk di bangku kelas VI SDN Cilandak Timur 03 Pagi. Orang tuanya yaitu Bapak Drs. Yusrizal Razali dan Ibu Yulia Kratiningsih, sangat sayang padanya. Walupun Ia salah satu penderita Autis, tapi berkat terapi mendalang penyakitnya itu bisa sembuh. Hal ini mebuktikan bahwa mendalang adalah salah satu cara untuk menyembuhkan Autis. Bapak H. Magono sangat sabar melatihnya, sehingga semangatnya pun tumbuh. Pengalamanya didalam mendalang cukup banyak diantaranya pentas dalam HUT TMII, Hari Anak Nasional, pembukaan Pekan Musium Wayang, radio Swara Jakarta dan masih banyak lagi..dan dia dikenal sebagai Dalang Autis alias Ki Kuncir, pernah tampil pula di acara Kick Andy, Metro TV.

YOGYA 
BAYU PRABA PRASAPA AJI

Putra dari Bapak Gandung Jatmiko dan Ibu Sunarni ini lahir di Sleman, tanggal 7 Mei 1998. Ia duduk di kelas 5, SD Temanggal 2 Purwomartani Kalasan Sleman. Ternyata bakatnya dalam mendalang diturunkan dari ayahnya. Walaupun ia masih terlihat muda, tapi Ia sudah cukup banyak mendapat penghargaan, diantaranya : mendapat Tropy Juara I dan II Festival Dalang Cilik Jogja. Dalam pementasannya yang paling menonjol adalah dibidang Sabet. Ia juga pernah pentas di SMKI Jogja, dan Temu dalang Cilik I se-Jawa tahun 2007 di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta.

JATENG
ADAM GIFARI
Ia lahir di Surakarta, tanggal 13 september 1999. Putra dari pasangan Bapak H. Rhoma Irama dan Ibu Gita Andini Saputri ini mulai mendalang semenjak usia 3,5 tahun di Padepokan Seni Sarotomo, yang di asuh oleh Bapak Mudjiono, S. Kar. Saat ini Ia duduk di kelas 2 SD Al- Firdaus Surakarta. Para guru di sekolahnya sangat mendukung kemahirannya dalam memainkan Wayang. Pengalamannya mendalang sampai saat ini sudah cukup banyak, diantaranya pada rahun 2005 pentas wayang kancil di Jogja, Salatiga, Surabaya, Jakarta. Pentas Exibisi dalang cilik se-kota Surakarta di Joglo Sri Wedari. Tahun 2007 pentas duet 2 kelir 2 dalang : Pati, Malang, Wonogiri, Purwokerto. Pentas Wayang Lintang Johar tahun 2008 di sri Wedari Solo, dan masih banyak lagi pentas-pentas yang telah dilakukan olehnya. Dia pernah mendapatkan penghargaan Temu Dalang Cilik se- Jawa 2007 di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta sebagai Dalang Catur (karena kepiawaiannya dalam berbicara).


ANGGIT LARAS PRABOWO
Dilahirkan di Karang Anyar, 2 Maret 2000 adalah putra bungsu dari keluarga Bapak Purwadi Kepala Desa Tunggul Rejo Jumantono, Matesi, Karang Anyar. Saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo kelas 2. Semenjak usia 5 tahun mulai mencintai dan senang menonton wayang kulit. Berawal dari menonton kemudian ada minat untuk menjadi dalang. Kemudian terus tekun berlatih menirukan dalang-dalang seperti Ki Manteb Soedharsono, Ki Entus Susmono, Ki Bayu Aji melalui VCD maupun pertunjukan secara langsung. Dan kemudian dibina oleh seorang dalang yang bernama Ki Waluyo Wignyocarito dari Matesih, Karang Anyar. Awal tahun 2007 dititipkan di Padepokan Seni Sarotomo sampai sekarang. Pengalaman mendalang sudah terhitung 24 kali, diantaranya pentas dalang dalam rangka Festival Budaya Jawa Tengah di RRI Semarang 30 Mei 2007 dan pentas Wungonan Gubernur Jawa Tengah di Rumah Dinas Puri Gedeh Semarang. Festival temu Dalang Cilik 23 Juli 2007 di Taman Budaya Jawa Tengah, Pentas keliling “Wayang Lintang Johar 2008 di City Walk Solo tanggal 31 Mei 2008.

HASDIAN KHARISMA PRIYANI

Dalang putri pasangan dari Bapak Sumardi dan Ibu Sopiyah ini lahir di Kebumen, tanggal 15 Januari 1999. Ibu Sopiyah adalah seorang dalang putri yang cukup terkenal dengan gagrak Banyumasan, jadi tak heran jika bakatnya di turunkan kepada putrinya tercinta. Ia sekarang duduk di kelas 4 Sekolah Dasar Pringtutul III, Rowolele, Kebumen. Walau belum memiliki prestasi banyak tapi De' Hasdian kiranya sebagai satu-satunya dalang bocah perempuan dapat merebut perhatian banyak orang.


HASDIAN KHARISMA PRIYANI

Dalang putri pasangan dari Bapak Sumardi dan Ibu Sopiyah ini lahir di Kebumen, tanggal 15 Januari 1999. Ibu Sopiyah adalah seorang dalang putri yang cukup terkenal dengan gagrak Banyumasan, jadi tak heran jika bakatnya di turunkan kepada putrinya tercinta. Ia sekarang duduk di kelas 4 Sekolah Dasar Pringtutul III, Rowolele, Kebumen. Walau belum memiliki prestasi banyak tapi De' Hasdian kiranya sebagai satu-satunya dalang bocah perempuan dapat merebut perhatian banyak orang.

PRASETYO DUNUNG PENGGALIH
Lahir di Sukoharjo pada tanggal 5 Juni 1997. Siswa kelas 5 SDN KEmasan 03 ini pernah menjadi juara III Karawitan PORSENI Tingkat Jawa Tengah. Juara I Pekan Seni Karawitan Tingkat Jawa Tengah 2007. Saat ini tinggal di Grantang, Kemasan Polokarto, Sukoharjo. Pentas keliling dalang bocah 4 kota 2006 yaitu Pati, Malang, Wonogiri dan Purwokerto. Pengendang terbaik Pekan Seni Jawa Tengah tahun 2007. Festival Dalang Bocah “Temu Dalang Cilik tahun 2007” di Taman Budaya Jawa Tengah. Pendukung juara Pavorit “Festival Wayang Orang Anak” se kota Surakarta tahun 2007 sebagai tokoh Geculan. Pentas keliling Wayang Lintang Johar Se-kota Surakarta tahun 2008.


RAFIF PUJASMARA
Lahir di Purbalingga, 24 Februari 1996. Siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Surakarta. Pernah meraih beberapa prestasi seperti juara I Mocopat Porseni SD tingkat jawa Tengah tahun 2005 dan juara I Festival Dalang Bocah se-eks Karesidenan Surakarta tahun 2004. Saat ini bertempat tinggal di Jl. Blimbing IV No. 81 Perumnas Palur RT 02/XX, Ngringo Jaten, Karanganyar. Juara I Festival Dalang Cilik se- Jawa tahun 2005 di PPPG Kesenian Jogja. Pentas keliling Wayang Lintang Johar 5 Juli 2008 di Solo.


Lahir di Semarang, 10 Januari 1996 putra ke tiga dari Bapak Maston dan Ibu Jengdhien. Saat ini kelas 6 SD Al-Azhar 14 Tembalang Semarang, agama Islam dengan alamat Gemah Jaya I. Pengalaman berkesenian : sejak usia 2 tahun sudah suka bermain dengan wayang, tokoh idolanya “Hanoman”, sering pentas mucuki pada acara Wayang Kulit Jum’at kliwonan di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang.

JATIM

Wuwus Nanang Galih Carito
Nama Dalang Jatim I adalah Wuwus Nanang Galih Carito, kelahiran Trenggalek 22 Nopember 1996. saat ini Wuwus berada di kelas V ( Lima ) di SD 6 Cakul, Dongko Kabupaten Trenggalek.
Lahir dari pasangan Bapak Soirun dan Ibu Katinem (Sunarsih). Ayahnya sendirilah, Bapak Soirun, yang berkerja keras mengajarkan seni Pedhalangan padanya dan karena bakat yang dimilikinya Wuwus ditempatkan pada sejumlah prestasi - prestasi yang menggembirakan seperti ; Juara Umum (Ngabehi) Temu dalang Bocah se Jawa, DKI, DIY, di Taman Budaya Surakarta tahun 2006 ; Pemangku Irama 5 terbaik non ranking Propinsi Jawa Timur, di Taman Krida Budaya Malang tahun 2007 ; dan yang paling menggembirakan Wuwus adalah Juara Umum Festival Dalang Bocah Propinsi Jawa Timur Tahun 2008.

Sih Hono Wisnu Purwo Laksito
Sih Hono Wisnu Purwo Laksito, lahir di Wonogiri tepat pada hari Valentine 14 Februari 1997, lahir dari pasangan Bapak Setu dan Ibu Sumini, saat ini duduk di kelas V SD Islam Permata, Mojokerto, sama seperti Wuwus, Sih Hono juga tidak memiliki sanggar dan ayahnya lah Bapak Setu yang mengembleng dia menjadi seorang Dalang. Festival ini adalah kompetisinya yang pertama. Dengan semangat dan bakat yang dimiliki Sih Hono, dia mewakili Provinsi Jawa Timur.
Walau belom berprestasi Sih Hono tidak akan berkecil hati, besok pada Festival Dalang Bocah I dia akan menampilkan satu-satunya gaya yang berbeda diantara perserta-perserta lainnya yaitu dengan Gaya Jawa Timuran/Jeg Dong, Sih Hono akan bersaing dengan lakon "Senopati Pinilih", layak disaksikkan untuk mengetahui seperti apa Gaya Jawa Timuran.. dan mudah2an bisa dijadikan sumber ilmu baru buat perserta lainnya.

Jumat, 19 November 2010

Mengenalkan Kisah Wayang kepada Remaja

  
Wayang mulai ditinggalkan, khususnya generasi muda.
Ada apa dengan wayang?
Mengapa anak-anak muda tidak menyenangi wayang?
Adakah yang salah dengan wayang?

Di antara banyak kesenian tradisional, wayang merupakan salah satu warisan budaya yang masih digemari sampai saat ini. Wayang merupakan gambaran kehidupan manusia dan di dalam pertunjukkan wayang terdapat pelajaran dan pendidikan tentang kebenaran. Namun sangat disayangkan, karena esensi nilai pertunjukan wayang sekarang sudah tergeser, yang pada mulanya wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan, sekarang hanya bisa menjadi tontonan.

Anak-anak dan remaja sangat akrab dengan komik, film kartun dan animasi asing. Saking akrabnya, mereka mengidolakan tokoh-tokoh superhero itu. Sementara dalam khazanah kebudayaan kita, seperti cerita pewayangan, ada banyak tokoh yang pantas diteladani, tetapi mereka tak mendapatkan cerita itu. Walaupun seni pewayangan masih eksis pada saat ini, namun keberadaannya mulai tergeser oleh budaya lain, tapi masih ada akar-akar yang kuat dari budaya wayang yang ada dalam masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Sehingga, perlu adanya suatu program pelestarian budaya khususnya budaya seni pewayangan agar keberadaannya terus eksis dan tidak semakin tergeser.

Padahal dalam kisah-kisah wayang banyak terdapat falsafah-falsafah yang bermanfaat yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat petuah-petuah kehidupan yang bermanfaat, disamping memberikan hiburan. Kemudian petuah-petuah bagi para pemimpin yang digambarkan oleh tokoh-tokoh raja yang menginginkan kemakmuran bagi rakyatnya, memerangi kebathilan di negara kekuasaanya sangat jelas digambarkan dalam kisah pewayangan.

Walaupun kisah wayang sebenarnya merupakan budaya India yang kemudian diadaptasi menjadi budaya Indonesia. Namun kisah wayang Indonesia memiliki keunikan tersendiri, karena memiliki banyak perbedaan dari kisah asli India. Salah satu babon wayang yang paling dikenal luas oleh masyarakat berasal dari Naskah Purwacarita atau yang lebih di kenal sebagai wayang PURWA. Selain naskah Purwacarita terdapat juga naskah wayang yang lain yaitu : Serat Kanda dan Purwakanda. Namun di antara ketiga babon ini naskah Purwacarita yang lebih banyak di kenal masyarakat luas. Demikian juga dengan tokoh-tokoh wayang Purwa yang tidak ada didalam kisah aslinya, seperti : Semar, Bagong, Gareng, Petruk, Togog, Mbilung, Sukasrana, Sumantri, Batara Antaga, Batara Ismaya, dll. Dengan demikian bisa dikatakan kisah PURWACARITA merupakan pengembangan dari kisah asli India yang di tulis oleh para Pujangga Nusantara seperti mpu Prapanca, Tantular, dll.

Walaupun ada sejumlah pendapat yang meyakini wayang tidak akan mati di negeri ini, karena sejumlah pergelaran di di tanah air selalu dibanjiri penonton. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bila tidak dimulai dari sekarang mengenalkan wayang pada generasi muda, wayang hanya akan dikenal dan dikenang dalam dokumen sejarah. Karena generasi muda lebih mengenal tokoh superhero Superman ketimbang Gatotkaca atau Bima. Jika hal ini sampai terjadi tentu akan sangat memprihatinkan.

”Wayang yang merupakan peradaban adiluhung bangsa yang sarat nilai dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa,” ujar Sudjiwo Tedjo.

Sebagai warga Negara Indonesia yang baik, dan menyadari kayanya negara kita akan kekayaan kesenian mengapa kita tidak memulai dari diri sendiri untuk mengagumi sekaligus melestarikan budaya kesenian itu, tidak hanya wayang saja, tetapi semua kesenian yang ada di indonesia ini.
Seandainya saja kita tidak mulai melestarikan dan mengenalkan wayang kulit khususnya, maka ada kemungkinan beberapa tahun kebelakang anak-anak kita sebagai generasi penerus tidak mengerti kisah wayang Purwa? Saat ini saja banyak diantara generasi muda ketika ditanya tokoh-tokoh wayang hanya menggelengkan kepala tidak tahu!

Kamis, 18 November 2010

Wayang, riwayatmu kini...



Di antara banyak kesenian tradisional, wayang merupakan salah satu warisan budaya yang masih digemari sampai saat ini. Wayang merupakan gambaran kehidupan manusia dan di dalam pertunjukkan wayang terdapat pelajaran dan pendidikan tentang kebenaran. Namun sangat disayangkan, karena esensi nilai pertunjukan wayang sekarang sudah tergeser, yang pada mulanya wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan, sekarang hanya bisa menjadi tontonan.
Wayang sebenarnya merupakan budaya India yang kemudian diadaptasi menjadi budaya Indonesia. Adaptasi disini hanyalah merupakan adaptasi bahasa semata, sedang untuk cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya kurang lebih masih sama. Tokoh-tokoh yang ada dalam wayang merupakan representasi dari karakter-karakter manusia sekarang. Sehingga cerita dalam pewayangan pun juga sekitar kehidupan manusia. Seperti perwatakan kepemimpinan yang digambarkan tokoh Kresna, tokoh itu menunjukkan orang yang mempunyai tujuan hidup dunia dan akhirat yang imbang. Kresna juga merupakan tauladan seorang pemimpin yang patut ditiru dari sifatnya yang arif, bijaksana, pembela kebenaran dan memiliki pembawaan yang penuh wibawa.
Kaitannya dengan karakter seorang pemimpin dalam pewayangan dan karakter pemimpin saat ini sangatlah berlawanan, tokoh pemimpin dalam pewayangan yang menggambarkan pemimpin sekarang adalah Dasamuka, seorang pemimpin kerajaan Ngalengka ini mempunyai watak murka, hal ini tidak jauh dengan karakter kebanyakan pemimpin sekarang yang murka dan banyak korupsi harta rakyat. Padahal banyak karakter pemimpin wayang yang bisa dicontoh, seperti karakter yang direpresentasikan oleh tokoh Kresna.
Seni pewayangan masih eksis pada saat ini, meskipun keberadaannya sedikit tergeser oleh budaya lain, tapi masih ada akar-akar yang kuat dari budaya wayang yang ada dalam masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Sehingga, perlu adanya suatu program pelestarian budaya khususnya budaya seni pewayangan agar keberadaannya terus eksis dan tidak semakin tergeser. Menyangkut hal ini, sebenarnya langkah yang dilakukan oleh pemerintah khususnya pemerintah kota solo yang telah sukses membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap seni batik dengan program Batik Carnival beberapa waktu lalu itu merupakan langkah yang tepat untuk menyelamatkan eksistensi budaya sendiri. Sehingga, bukan tidak mungkin pemerintah juga membangkitkan minat masyarakat terhadap seni pewayangan asal caranya tepat.
Pertunjukkan wayang sekarang ini, meski masih dikategorikan eksis, tapi juga mengkhawatirkan. Hal ini nampak jelas bila dibandingkan antara pertunjukkan wayang jaman dulu dan pertunjukkan wayang sekarang. Pertunjukkan wayang sekarang cenderung keluar dari skenario, pesan moral yang seharusnya tersirat jelas dalam setiap adegan pementasan sekarang nampak mulai kabur. Wayang yang pada awalnya merupakan tontonan dan tuntunan, sekarang mengalami penurunan kualitas bobot pesan moral. Hal ini disebabkan karena banyak dalang sekarang yang dikategorikan sebagai dalang nakal , dalang yang dimaksud adalah dalang yang bicaranya kasar dan rusuh, bahkan mengarah pada pembicaraan dewasa. Inilah masalah yang paling sulit dipecahkan, ketika harus membangkitkan kembali seni wayang, masyarakat lebih tertarik dengan pertunjukkan wayang yang rusuh. Padahal, makna ’membangkitkan’ disini diharapkan tidak hanya bangkit dan banyak pertunjukkan wayang, tapi juga ngugemi nilai-nilai etika serta estetika dalam pertunjukkan wayang tersebut agar nilai dan pesan moral yang terkandung didalamnya tidak hilang.

Rabu, 10 November 2010

Detya Kalamercu part. 4

Nasihat Batara Guru pada Prabu Detya Kalamercu
KARSANING RASA RESIK JIWA MARDIKA
KANGGO EMPAN PAPAN DAYANING PANGUWASA

Tokoh-tokoh Pewayangan (Ramayana)

RAMAYANA

Anoman
     ANOMAN atau HANOMAN berwujud kera putih, tetapi dapat berbicara dan beradat-istiadat seperti manusia. Ia juga dikenal dengan nama: Anjanipura (putra Dewi Anjani), Bayudara (putra Bhatara Bayu), Bayusiwi, Guruputra (putra Bhatara Guru), Handayapati (berkekuatan yang sangat besar), Yudawisma (panglima perang), Haruta (angin), Maruti, Palwagaseta (kera putih), Prabancana, Ramandayapati (putra angkat Sri Rama), Senggana (panglima perang), Suwiyuswa (panjang usia) dan Mayangkara (roh suci, gelar setelah menjadi pendeta di Kendalisada). Anoman adalah putra Bathara Guru dengan Dewi Anjani, putri sulung Resi Gotama dengan Dewi Windradi dari pertapaan Erriya/Grastina.

     Anoman merupakan makhluk kekasih dewata. Ia mendapat anugerah Cupumanik Astagina, ditakdirkan berumur panjang, hidup dari zaman Ramayana sampai zaman Mahabharata, bahkan sampai awal/memasuki zaman Madya. Anoman memiliki beberapa kesaktian. Ia dapat bertriwikrama, memiliki aji Sepiangin (dari Bhatara Bayu), aji Pameling (dari Bhatara Wisnu), dan aji Mundri (dari Resi Subali, uwaknya). Tata pakaiannya melambangkan kebesaran, antara lain: pupuk Jarotasem Ngrawit, gelung Minangkara, kelatbahu Sigar Blibar, kampuh/kain Poleng bewarna hitam, merah, dan putih, gelang/binggel Candramurti, dan ikat pinggang Akar Mimang.

     Anoman tiga kali menikah. Pertama dengan Dewi Urangrayung, putri Bagawan Minalodra dari Kandabumi. berputra Trigangga/Triyangga, berwujud kera putih. Istri kedua bernama Dewi Sayempraba, putri raksasa Wisakarma dari Gowawindu, tidak memunyai anak. Anoman kemudian menikah dengan Dewi Purwati, putri Resi Purwapada dari pertapaan Andonsumawi, berputra Purwaganti.
     Anoman memunyai perwatakan: pemberani, sopan-santun, tahu harga diri. setia, prajurit ulung, waspada, pandai berlagu, rendah hati, teguh dalam pendirian, kuat, dan tabah. Ia mati moksa, raga dan sukmanya lenyap di pertapaan Kendalisada.

Dasamuka
     DASAMUKA atau RAHWANA adalah putra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, raja negara Alengka. Ia memunyai tiga orang saudara kandung bernama: Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka, dan Arya Wibisana. Dasamuka juga memunyai saudara seayah lain ibu bernama Wisrawana/Prabu Danaraja raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.

      Dasamuka berwatak angkara murka, ingin menang sendiri, penganiaya, dan pengkhianat. Berani dan selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti, memiliki aji Rawarontek dari Prabu Danaraja dan aji Pancasona dari Resi Subali. Dasamuka menjadi raja negara Alengka mengantikan kakeknya, Prabu Sumali dengan menyingkirkan pamannya, Prahasta. Ia membunuh Prabu Danaraja, kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.

     Dasamuka pernah menyerang Suralaya dan memeroleh Dewi Tari, putri Bhatara Indra dengan Dewi Wiyati. yang menjadi istrinya dan berputra Indrajid/Megananda. Dasamuka juga menikah dengan Dewi Urangrayung, putri Bagawan Minalodra, dan berputra Pratalamayam. Dari beberapa orang istri lainnya, Dasamuka berputra antara lain: Yaksadewa, Trisirah, Trimuka, dan Trimurda. Dasamuka sangat ingin memperistri wanita titisan Bhatari Sri Widowati. Ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama, dan kemudian menculik serta menyekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama selama hampir 12 tahun di Taman Argasoka negara Alengka.

     Kesaktian dan keangkaramurkaan Prabu Dasamuka hanya dapat ditaklukkan oleh Prabu Arjuna Sasrabahu, raja negara Maespati, dan Resi Subali, brahmana kera dari pertapaan Sonyapringga. Akhirnya Prabu Dasamuka harus takluk oleh Prabu Ramawijaya, satria titisan Bhatara Wisnu.
     Dasamuka dikejar-kejar oleh panah Gowawijaya yang ditembakkan oleh Ramawijaya. Ketika dikejar panah tersebut, Anoman pun ikut mengejar Dasamuka ke mana pun lari hingga Dasamuka bersembunyi di kedua gunung kembar. Ternyata gunung kembar tersebut perlahan-lahan mendekati Dasamuka dan menghimpitnya. Dasamuka pun akhirnya terjepit untuk selama-lamanya, tidak mati namun juga tak bisa ke mana-mana lagi.
     Kedua gunung kembar tersebut ternyata penjelmaan anak kembar Dasamuka sendiri yang dulu dipenggal kepalanya untuk mengelabui Dewi Sinta bahwa dua kepala yang dipenggal adalah kepala Ramawijaya dan Leksmana. Begitulah, kedua anak kembar tersebut telah menjalankan karmanya dengan melakukan "balas dendam" terhadap ayah mereka sendiri yang telah banyak membuat angkara murka.

Jambumangli
     Ditya JAMBUMANGLI adalah putra Ditya Maliawan, adik Prabu Sumali, raja negara Alengka. Meski memiliki bentuk tubuh agak pendek menurut ukuran raksasa, karena ketekunannya bertapa, Jambumangli menjadi sangat sakti.

     Jambumangli sebenarnya ingin memperistri Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, yang berarti saudara sepupunya sendiri. Tetapi keinginan itu hanya disimpan dalam hati, takut berterus terang. Ketika Dewi Sukesi menjadi lamaran banyak satria dan raja-raja, dan Dewi Sukesi sendiri juga mengeluarkan persyaratan penjabaran ilmu Sastra Harjendra Yuningrat, Jambumangli mengajukan persyaratan kepada Prabu Sumali: bahwa hanya mereka yang dapat mengalahkannya yang berhak memperistri Dewi Sukesi.

     Akhirnya Jambumangli tewas dalam pertempuran melawan Resi Wisrawa, brahmana dari pertapaan Girijembatan yang datang melamar Dewi Sukesi untuk putranya, Prabu Danaraja raja negara Lokapala. Resi Wisrawa juga berhasil menjabarkan ilmu Sastra Harjendra Yuningrat. Jambumangli mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Anggota tubuhnya terpotong-poptong. Sebelum ajal merenggut jiawanya, Jambumangli mengeluarkan kutukan, bahwa kelak akan ada anak Wisrawa yang mati dengan cara yang sama seperti dirinya.

Kumbakarna
     Arya KUMBAKARNA adalah putra kedua Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, raja negara Alengka. Ia memunyai tiga orang saudara kandung bernama: Dasamuka/Rahwana, Dewi Sarpakenaka, dan Arya Wibisana. Kumbakarna juga memunyai saudara lain ibu bernama Wisrawana/Prabu Danaraja raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.

     Kumbakarna berkedudukan di kesatrian/negara Leburgangsa. Ia berwatak jujur, berani karena benar, dan cinta tanah air. Pada waktu muda ia pergi bertapa dengan maksud agar dapat anugerah dewa berupa kejujuran dan kesaktian. Kumbakarna pernah ikut serta Prabu Dasamuka menyerang Suralaya, dan memeroleh Dewi Aswani sebagai istrinya. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama Kumba-kumba (Kumbaaswani) dan Aswanikumba.

     Pada waktu pecah perang, negara Alengka diserang balatentara kera Prabu Rama di bawah panglima perang Narpati Sugriwa untuk membebaskan Dewi Sinta yang disekap Prabu Dasamuka, Kumbakana maju sebagai senapati perang. Ia berperang bukan membela keangkaramurkaan Prabu Dasamuka melainkan membela negara Alengka, tanah leluhurnya yang telah memberinya hidup.

     Kumbakarna akhirnya gugur dalam pertempuran melawan Prabu Rama dan Laksmana. Tubuhnya terpotong-potong menjadi beberapa bagian oleh hantaman senjata panah yang dilepas secara bersamaan. Apa yang terjadi pada diri Kumbakarna merupakan karma perbuatan Resi Wisrawa, ayahnya tatkala membunuh Jambumangli.

Leksmana
     LEKSMANA atau LAKSAMANA WIDAGDA adalah putra Prabu Dasarata, raja negara Ayodya dengan permaisuri kedua Dewi Sumitra, putri Prabu Ruryana raja negara Maespati. Ia memunyai empat orang saudara seayah lain ibu bernama: Ramawijaya/Ramadewa (dari permaisuri Dewi Kusalya), Barata, Satrugna, serta Dewi Kawakwa (ketiganya dari permaisuri Dewi Kekayi).
     Leksmana bertempat tinggal di kesatrian Girituba. Ia seorang satria brahmacari (tidak kawin). Ia memunyai watak halus, setia, dan tak kenal takut. Sejak kecil Leksmana sangat rapat dan sangat sayang kepada Ramawijaya.
     Leksmana diyakini sebagai titisan Bhatara Suman, pasangan Bhatara Wisnu. Dengan setia Leksmana mengikuti Ramawijaya, yang merupakan titisan Wisnu, menjalani pengasingan selama 13 tahun bersama Dewi Sinta. Ketika Dewi Sinta diculik Prabu Dasamuka dari tengah hutan Dandaka dan disekap di Taman Argasoka negara Alengka, Leksmana membantu perjuangan Ramawijaya merebut dan membebaskan kembali Dewi Sinta dari sekapan Prabu Dasamuka.
     Dalam perang besar di Alengka, Leksmana banyak menewaskan senapati ulung andalan Alengka. Ia menewaskan Dewi Sarpakenaka serta Indrajid/Megananda, keduanya adik dan putra kesayangan Prabu Dasamuka.
     Setelah berakhirnya perang dan Ramawijaya beserta Dewi Sinta kembali ke negara Ayodya, dengan setia Leksmana tetap membantu Prabu Ramawijaya mengatur tata pemerintahan negara Ayodya. Ia meninggal dalam usia lanjut, dan jenazahnya dimakamkan di Gunung Kutarunggu berdampingan dengan makam Prabu Ramawijaya.

Lembusura
     LEMBUSURA berwujud raksasa berkepala sapi (lembu). Karena kesaktiannya, dia diangkat menjadi patih negara Gowa Kiskenda di bawah pemerintahan Prabu Maesasura, raksasa berkela kerbau. Ia memunyai saudara seperguruan bernama Diradasura, berwujud raksasa berkepala gajah.
     Oleh Prabu Maesasura, patih Lembusura ditugaskan pergi ke Suralaya untuk melamar Dewi Tara, putri SangHhyang Indra dengan Dewi Wiyati. Ia pergi disertai Diradasura. Ketika lamarannya ditolak oleh Bhatara Guru, dengan wewenang yang diberikan rajanya, Lembusura dan Diradasura mengamuk di Suralaya dan berhasil mengalahkan para Dewa. Bhatara Guru kemudian menugaskan Bhatara Narada turun ke Arcapada, meminta bantuan Sugriwa, putra Resi Gotama dengan Dewi Windradi/Indradi dari pertapaan Erraya/Grastina yang saat itu sedang bertapa ngijang di hutan Sunyapringga.
     Dalam pertempuran di Mrepatkepanasan (nama lapangan di Suralaya). Lambusura dan Diradasura
akhirnya mati oleh Sugriwa.

Maesasura
      PRABU MAESASURA adalah raja negara Gowa Kiskenda. Ia berwujud raksasa berkepala kerbau. Prabu
Maesasura memunyai seorang patih yang bernama Lembusura, raksasa berkepala sapi. Prabu Maesasura sangat sakti karena memunyai saudara seperguruan bernama Jatasura, seekor harimau yang memiliki rambut gimbal di lehernya. Prabu Maesasura dan Jatasura seolah-olah dua jiwa yang satu, keduanya tidak dapat mati, apabila hanya satu dari mereka yang tewas.
     Karena merasa sangat sakti, Prabu Maesasura datang ke Kahyangan Kaindran untuk melamar Dewi Tara, putri sulung Bhatara Indra dengan Dewi Wiyati. Kalau lamarannya ditolak, Prabu Maesasura dan Jatasura mengancam akan menghancurkan Kahyangan Keindran dengan seluruh bala tentaranya yang sangat kuat.
     Bhatara Indra kemudian meminta bantuan kepada Subali dan Sugriwa, keduanya putra Resi Gotama dengan Dewi Indradi dari pertapaan Grastina/Erraya, untuk menghadapi dan membunuh Prabu  Maesasura, Jatasura, dan Lembusura. Prabu Maesasura, dan Jatasura akhirnya dapat dibinasakan oleh Subali yang menantang masuk ke dalam Gowa Kiskenda. Kepala Maesasura dan Jatasura diadu kumba (saling dibenturkan satu dengan yang lain) hingga pecah dan mati seketika di dalam saat yang bersamaan. Sedangkan patih Lembusura dapat dibinasakan oleh Sugriwa.

Prabu Danaraja
      PRABU DANARAJA yang waktu mudanya bernama Wisrawana, dikenal pula dengan Prabu Danapati dan Prabu Bisawarna. Ia adalah putra tunggal Resi Wisrawa, raja negara Lokapala dengan permaisuri Dewi Lokawati, putri Prabu Lowana dengan Dewi Lokati. Danaraja juga memunyai empat saudara seayah lain ibu, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari negara Alengka, bernama: Rahwana/Dasamuka, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka, dan Arya Wibisana.
     Prabu Danaraja menjadi raja negara Lokapala menggantikan ayahnya, Resi Wisrawa, yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana di pertapaan Girijembatan. Ia sangat sakti karena memiliki aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana. Prabu Danaraja gagal memperistri Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja negara Alengka. Dewi Sukesi malah diperistri ayahnya sendiri, Resi Wisrawa, yang telah berhasil menjabarkan ilmu Sastra Harjendra Yuningrat dan membunuh Ditya Jambumangli. Prabu Danaraja kemudian menyerang negara Alengka dan bertempur dengan ayahnya sendiri. Dalam pertempuran tersebut, ia berhasil membunuh Resi Wisrawa.
     Beberapa tahun kemudian perbuatan Prabu Danaraja dibalas oleh Rahwana/Dasamuka. Ia tewas terbunuh dalam peperangan melawan Dasamuka. Sebelum menemui ajalnya, Prabu Danaraja terlebih dahulu menyerahkan aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana kepada Dasamuka.
Prahasta

     Patih PRAHASTA adalah putra Prabu Sumali, raja raksasa negara Alengka dengan Dewi Desidara. Ia memunyai kakak kandung bernama Dewi Sukesi yang menjadi istri Resi Wisrawa dari pertapaan Girijembatan, wilayah negara Lokapala.
     Prahasta berwatak jujur, setia, dan penuh pengabdian. Ia sesungguhnya putra mahkota negara Alengka.
Tetapi karena ia takut dengan kesaktian yang dimiliki Rahwana, putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa, Prahasta merelakan tahta negara Alengka oleh ayahnya diberikan kepada Rahwana dan dia bersedia menduduki jabatan patih.
     Ketika pecah perang Alengka, Prahasta maju sebagai senapati perang setelah gugurnya Dewi Sarpakenaka. Tak terhitung jumlah balatentara kera Prabu Rama yang mati oleh keganasan Prahasta. Anila patih negara Kiskenda akhirnya maju menghadapi keperkasaan Prahasta, dengan siasat perang menghindar, mundur, dan balas menyerang. Prahasta terus mengejar Anila, hingga pertempuran sampai di tepi hutan. Anila yang hampir terjebak tiba-tiba melihat sebuah patung batu. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya patung itu diangkatnya dan dihantamkan ke kepala Prahasta. Prahasta tewas seketika dengan kepala hancur bersamaan dengan pecahnya tugu tersebut. Kiranya tugu itu adalah penjelmaan Dewi Indradi, ibu dari Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terkena kutuk Resi Gotama, suaminya sendiri.

Sarpakenaka
      Dewi SARPAKENAKA adalah putri ketiga Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, raja negara Alengka. Ia memunyai tiga orang saudara kandung bernama: Dasamuka/Rahwana, Arya Kumbakarna, dan Arya Wibisana. Sarpakenaka juga mempunyai saudara seayah lain ibu: Prabu Danaraja/Danapati, raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.
     Walau seorang raksesi, Sarpakenaka sangat sakti. Ia memiliki kuku yang berbisa ular dan merupakan senjata pusaka yang diandalkan. Sarpakenaka berwatak: congkak, ganas, bengis, angkara murka, dan serakah. Ia memunyai dua orang suami bernama: Ditya Kardusana dan Ditya Nopati.
     Dengan kesaktiannya Dewi Sarpakenaka pernah beralih rupa menjadi wanita cantik dan merayu Leksmana di hutan Dandaka dan ingin menjadi istrinya. Lamarannya ditolak. Karena ia tetap memaksakan kehendaknya, membuat Leksmana marah dan memangkas kutung hidungnya serata pipi.
     Pada waktu negara Alengka diserbu Prabu Rama dengan balatentara keranya dalam upaya membebaskan Dewi Shinta yang diculik dan disekap Prabu Dasamuka, Dewi Sarpakenaka maju sebagai senapati perang Alengka.. Dengan penuh dendam ia bertempur melawan Laksmana. Akhirnya Sarpakenaka mati terbunuh oleh panah sakti Surawijaya, setelah sebelumnya kuku saktinya dicabuti oleh Anoman.

Sinta
     Dewi SINTA adalah putri Prabu Janaka, raja negara Mantili atau Mitila (Mahabharata). Dewi Sinta diyakini sebagai titisan Bhatari Sri Widowati, istri Bhatara Wisnu. Selain sangat cantik, Dewi Sinta merupakan putri yang sangat setia, jatmika (selalu dengan sopan santun), dan suci trilaksita (ucapan, pikiran dan hati). Dewi Sinta menikah dengan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya dari negara Ayodya, setelah Rama memenangkan sayembara mengangkat busur Dewa Siwa di negara Mantili. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh dua orang putra bernama: Lawa dan Kusya.
     Dengan setia Dewi Sinta mengikuti suaminya, Ramawijaya, menjalani pengasingan. Karena terpesona oleh keindahan Kijang Kencana penjelmaan Ditya Marica, Dewi Sinta akhirnya diculik oleh Prabu Dasamuka dan ditawan di Taman Argasoka negara Alengka hampir 12 tahun lamanya. Ia akhirnya dapat dibebaskan oleh Ramawijaya, setelah berhasil membinasakan Prabu Dasamuka dan semua senapati perang Alengka.
     Menurut Mahabharata, Dewi Sinta tidak lama tinggal di istana Ayodya sebagai permaisuri Prabu Rama. Karena kecurigaan Prabu Rama terhadap kesucian Dewi Sinta walau telah dibuktikan dengan hukum bakar di Alengka, Dewi Sinta kemudian diasingkan dari istana Ayodya, dan hidup di pertapaan Resi Walmiki. Di tempat itulah Dewi Sinta melahirkan kedua putra kembarnya: Lawa dan Kusya. Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Sinta mati ditelan bumi saat akan boyong kembali ke istana Ayodya.

Sukesi
     Dewi SUKESI adalah putri sulung Prabu Sumali, raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Desidara. Ia memunyai adik kandung bernama Prahasta. Walau ayahnya berwujud raksasa, Dewi Sukesi berwajah cantik seperti ibunya, seorang hapsari/bidadari. Ia berwatak sangat bersahaja, jujur, setia, dan kuat dalam pendirian.
     Setelah dewasa Dewi Sukesi menjadi lamaran para satria dan raja. Untuk menentukan pilihan, Dewi Sukesi menggelar sayembara: barang siapa yang bisa menjabarkan ilmu Sastra Harjendra Yuningrat dialah yang berhak menjadi suaminya. Pamannya, Ditya Jambumangli putra Ditya Maliawan, yang secara diam-diam mencintai Dewi Sukesi, ikut mengajukan satu persyaratan: hanya mereka yang dapat mengalahkan dirinya yang berhak mengawini Dewi Sukesi.
     Sayembara akhirnya dimenangkan oleh Resi Wisrawa, brahmana dari pertapaan Girijembatan, yang
meminang Dewi Sukesi atas nama putranya, Prabu Wisrawana/Danaraja, raja negara Lokapala. Selain dapat menjabarkan ilmu Sastra Harjendra Yuningrat", Resi Wisrawa juga berhasil membunuh Ditya Jambumangli. Dewi Sukesi menolak dinikahkan dengan Prabu Danaraja, lebih memilih menikah dengan Resi Wisrawa. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh empat orang putra, masing-masing: Rahwana, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka, dan Arya Wibisana.
     Dewi Sukesi diceritakan meninggal karena sedih dan sakit setelah istana Alengka dibakar oleh Anoman.

Sumali
     Prabu SUMALI adalah putra Prabu Suksara, raja raksasa negara Alengka dengan permaisuri Dewi Subakti. Ia mempunyai adik kandung bernama Ditya Maliawan. Prabu Sumali menjadi raja negara Alengka menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu Suksara yang mengundurkan diri hidup sabagai brahmana.
     Prabu Sumali adalah raja Aditya yang berwatak brahmana. Ia memerintah negara dengan arif dan bijaksana, adil dan jujur. Prabu Sumali menikah dengan Dewi Desidara, seorang hapsari keturunan Bhatara Brahma dari permaisuri Dewi Sarasyati. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra: Dewi Sukesi dan Prahasta.
     Atas desakan Ditya Jambumangli, putra Ditya Maliawan, Prabu Sumali menyelenggarakan sayembara tanding untuk mencari jodoh bagi putrinya, Dewi Sukesi. Sayembara itu dimenangkan oleh Resi Wisrawa dari pertapaan Girijembatan wilayah negara Lokapala setelah menewaskan Ditya Jambumangli, dan berhasil menjabarkan ilmu Sastra Harjendra Yuningrat atas permintaan Dewi Sukesi.
     Setelah usianya lanjut dan merasa tak mampu lagi menangani pemerintahan negara, Prabu Sumali kemudian menyerahkan kekuasaan kerajaan Alengka kepada cucunya, Rahwana, putra Dewi Sukesi dengan Wisrawa. Prabu Sumali meninggal setelah peristiwa pembakaran istana Alengka oleh Anoman.

Wisrawa
     Resi WISRAWA adalah putra Resi Supadma dari pertapaan Giri Jembatan, masih keturunan Bhatara
Sambodana, putra Bhatara Sambu. Resi Wisrawa sangat sakti dan termasyhur dalam ilmu Kasidan. Ia kemudian dinikahkan dengan saudara sepupunya. Dewi Lokawati, putri Prabu Lokawana raja negara Lokapala dengan permaisuri Dewi Lokati. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh seorang putra bernama Wisrawana.
     Setelah Prabu Lokawana mangkat, atas perkenan Dewi Lokawati, Resi Wisrawa dilantik menjadi raja negara Lokapala. Ia tidak lama memerintah. Setelah Wisrawana dewasa, takhta kerajaan diberikan kepada putranya. Resi Wisrawa kemudian hidup sebagai brahmana di pertapaan Girijembatan. Wisrawana menjadi raja negara Lokapala bergelar Prabu Danaraja/Danapati atau Prabu Wisawarna.
     Resi Wisrawa menikah dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja negara Alengka dengan Dewi Desidara.
Perkawinan terjadi setelah Resi Wisrawa berhasil menjabarkan ilmu Sastra Harjendra Yuningrat dan membunuh Ditya Jambumangli dalam sayembara memperebutkan Dewi Sukesi. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh empat
orang putra: Rahwana/Dasamuka, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka, dan Arya Wibisana.
     Prabu Danapati, putranya, yang juga menginginkan Dewi Sukesi, begitu mengetahui Dewi Sukesi diperistri ayahnya sendiri, segera menyerang negara Alengka. Terjadilah pertempuran antara anak dan ayah. Akhirnya Resi Wisrawa tewas lemas kehabisan nafas.

Tokoh-tokoh Pewayangan (Mahabharata 2)

Gandabayu
      PRABU GANDABAYU adalah raja negara Pancala. Konon ia masih keturunan Resi Suksrana, murid Resi Boma, nama samaran Bathara Bayu ketika menjadi raja di negara Medanggora. Prabu Gandabayu menikah dengan Dewi Gandarini, dan berputra dua orang bernama Dewi Gandawati dan Arya Gandamana.

       Prabu Gandabayu berwatak gagah berani, teguh sentosa, bersahaja, pendiam, dan sakti. Ia memunyai hubungan yang sangat karib dengan Prabu Pandudewanata, raja negara Astina, sehingga Dewi Gandawati dikawinkan dengan Arya Sucitra, punggawa dan murid kesayangan Prabu Pandu Dewanata.

      Prabu Gandabayu memerintah negara Pancala sampai mangkatnya. Karena penggantinya, putra mahkota Arya Gandamana tidak bersedia memegang kedudukan raja dan lebih senang menjabat Patih di negara Astina.

Gandamana
      ARYA GANDAMANA adalah putra mahkota negara Pancala. Putra Prabu Gandabayu dengan permaisuri Dewi Gandarini. Ia memunyai kakak kandung bernama Dewi Gandawati. Arya Gandamana adalah kesatria yang tiada tandingannya. Ia tampan, gagah, tegap, pendiam, pemberani, kuat dan sakti, serta memiliki ilmu andalan aji Bandung Bandawasa dan Glagah Pangantol-atol.

      Arya Gandamana pernah menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Penyakit itu baru sembuh setelah ia berikrar, mengucapkan sumpah tidak akan menjadi raja sesuai wangsit Dewata. Gandamana kemudian pergi mengabdikan ke negara Astina ke hadapan Prabu Pandu, dan diangkat menjadi patih negara Astina.

     Jabatan itu dipegangnya sampai ia harus meninggalkan negara Astina karena pengkhianatan Sakuni (Sangkuning). Ketika ayahnya, Prabu Gandabayu meninggal, Gandamana tetap teguh dengan sumpahnya. Ia relakan haknya menjadi raja kepada kakak iparnya, Arya Sucitra, menjadi raja Pancala bergelar Prabu Drupada.

      Menurut Mahabharata, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat terjadi penyerbuan anak-anak Kurawa dan Pandawa ke negara Pancala atas perintah Resi Drona. Sedangkan menurut pedalangan, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat ia melakukan pasanggiri/sayembara tanding dalam upaya mencarikan jodoh untuk Dewi Drupadi.

Gandari
      DEWI GANDARI adalah putra Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Ia memunyai tiga orang saudara kandung, bernama: Arya Sakuni, Arya Surabasata, dan Arya Gajaksa.

      Dewi Gandari menikah dengan Prabu Drestarasta, raja negara Astina, putra Prabu Kresna Dwipayana atau Bagawan Abiyasa dengan permaisuri Dewi Ambika. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh 100 (seratus) orang anak, yang pada waktu dilahirkannya berwujud gumpalan darah kental, yang oleh Dewi Gandari dicerai beraikan menjadi seratus potongan, dan atas kehendak Dewata menjelma menjadi bayi normal.

      Keseratus putra Dewi Gandari tersebut dikenal dengan nama Sata Kurawa. Di antara mereka yang terkenal dalam pedalangan adalah: Duryudana (Raja Astina). Bogadatta, (Raja Turilaya), Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (Raja Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (Raja Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (Raja Purantara), dan Dewi Dursilawati (satu-satunya perempuan).
     Dewi Gandari bersifat iri hati. Ia selalu mementingkan diri sendiri dan pendendam. Dendamnya terhadap Pandu, karena ia tak jadi diperistri oleh Pandu malah oleh kakak Pandu yaitu Drestarasta yang buta, menjadi penyebab utama kebencian anak-anaknya, Kurawa terhadap Pandawa. Ia mati terjun ke dalam pancaka/api pembakaran jenazah bersama Dewi Kunti dan Prabu Drestarasta setelah berakhirnya Perang Bharatayuda.

Gandawati
      DEWI GANDAWATI adalah putri sulung Prabu Gandabayu, raja negara Pancala atau Pancalaradya (Jawa) dengan permaisuri Dewi Gandarini. Ia memunyai seorang adik kandung bernama Arya Gandamana yang menjadi patih negara Astina pada zaman pemerintahan Prabu Pandu.
     Dewi Gandawati seorang putri cantik jelita, luhur budinya, bijaksana, sabar, teliti, serta setia. Ia sangat berbakti terhadap suaminya. Dewi Gandawati menikah dengan Arya Sucitra, putra Arya Sangara dari Hargajambangan yang telah lama mengabdi dan berguru pada Prabu Pandu di negara Astina. Sepeninggal Prabu Gandabayu, Arya Sucitra, suaminya naik tahta kerajaan Pancala, bergelar Prabu Drupada. Hal ini karena Gandamana menolak untuk dinobatkan menjadi raja.

     Dari perkawinan tersebut Dewi Gandawati memeroleh tiga orang putra, bernama: 1. Dewi Drupadi atau Pancali (Mahabharata) yang kemudian menjadi istri Prabu Yudhistira, raja negara Amarta. 2. Dewi Srikandi, yang kemudian menjadi istri Arjuna, 3. Dretadyumna/Trustajumena, yang dalam Perang Bharatayuda berhasil membunuh Resi Drona.
     Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Gandawati ikut belapati, terjun ke dalam pancaka (api pembakaran jenasah) Prabu Drupada, suaminya yang gugur di medan Bharatayuda melawan Resi Drona.

Garbanata
      PRABU GARBANATA adalah raja negara Garbaruci. Ia masih keturunan Prabu Kalaruci, raja negara Karanggubarja, yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu saat menyerang Suralaya, karena ingin memperistri bidadari Dewi Wersini. Prabu Garbanata menikah dengan Dewi Danawati, putri Prabu Kalayaksa, raja negara Garbasumanda. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh seorang putri bernama Dewi Garbarini.

      Terdorong oleh rasa dendam terhadap keluarga Mandura, Prabu Garbanata ingin merebut kembali negara Karanggubarja yang kini telah dikuasai oleh Prabu Setyajid/Arya Ugrasena dan berganti nama menjadi negara Lesanpura. Penyerangan besar-besaran pun dilakukan terhadap negara Lesanpura. Dalam penyerangan tersebut Prabu Garbanata kalah dalam peperangan melawan Arya Setyaki, putra Prabu Setyajid dengan Dewi Wersini, yang memiliki senjata gada Wesikuning peninggalan Arya  Singamulangjaya, senapati perang negara Dwarawati.

      Perdamaian pun akhirnya dilakukan antara negara Garbaruci dengan Lesanpura. Untuk mengukuhkan tali persaudraan, Dewi Garbarini, putri Prabu Garbasumanda kemudian dijodohkan dengan Arya Setyaki.

Gardapati
      GARDAPATI adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Ia termasuk salaj satu Kurawa bersaudara.

      Gardapati berwatak keras hati, congkak, cerdik dan licik. Ia pandai dalam mempergunakan senjata gada dan lembing. Dengan kesaktiannya, ia berhasil merebut negara Bukasapta, dan mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Prabu Gardapati. Adik kesayangannya, Gardapura, diangkat menjadi raja muda bergelar Prabu Anom Gardapura.

      Saat berlangsung Perang Bharatayuda, Gardapati diangkat menjadi senapati perang Kurawa dengan senapati pendamping Prabu Wresaya, raja negara Glagahtinalang. Gardapati tewas dalam peperangan melawan Bima. Tubuhnya hancur dihantam gada Rujakpala.

Gardapura
       GARDAPURA adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Ia merupakan salah seorang dari Kurawa bersaudara.

      Gardapura bersifat sombong, keras kepala, cerdik, dan licik. Ia pandai dalam mempergunakan senjata gada dan panah. Gardapura sangat dekat hubungannya dengan Gardapati, kakaknya. Ketika Gardapati menjadi raja di negara Bukasapta, ia diangkat sebagai raja pendamping dengan gelar Prabu Anom Gardapura.
     Saat berlangsung Perang Bharatayuda, Gardapura diangkat sebagai senapati pendamping, mendampingi Resi Drona yang berkedudukan sebagai Senapati utama. Ia tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepalanya hancur dihantam gada Rujakpala.

Gareng
      GARENG lazim disebut sebagai anak Semar dan masuk dalam golongan panakawan. Aslinya, Gareng bernama Bambang Sukskati, putra Resi Sukskadi dari padepokan Bluluktiba. Bertahun-tahun Bambang Sukskati bertapa di bukit Candala untuk mendapatkan kesaktian. Setelah selesai tapanya, ia kemudian minta izin pada ayahnya untuk pergi menaklukkan raja-raja.

      Di tengah perjalanan Bambang Sukskati bertemu dengan Bambang Panyukilan, putra Bagawan Salantara dari padepokan Kembangsore. Karena sama-sama congkaknya dan sama-sama mempertahankan pendiriannya, terjadilah peperangan antara keduanya. Mereka memunyai kesaktian yang seimbang, sehingga tiada yang kalah dan menang. Mereka juga tak mau berhenti berkelahi walau tubuh mereka telah saling cacad tak karuan.
     Perkelahian baru berakhir setelah dilerai oleh Semar alias Sang Hyang Ismaya. Karena sabda Sang Hyang Ismaya, berubahlah wujud keduanya menjadi sangat jelek. Tubuh Bambang Sukskati menjadi cacad. Matanya juling, hidung bulat bundar, tak berleher, perut gendut, kaki pincang, tangannya bengkok/tekle/ceko (Jawa). Oleh Sang Hyang Ismaya namanya diganti menjadi Nala Gareng, sedangkan Bambang Panyukilan menjadi Petruk.

      Nala Gareng menikah dengan Dewi Sariwati, putri Prabu Sarawasesa dengan permaisuri Dewi Saradewati dari negara Salarengka, yang diperolehnya atas bantuan Resi Tritusta dari negara Purwaduksina. Nala Gareng berumur sangat panjang, ia hidup sampai zaman Madya.

Gatotkaca
      GATOTKACA terkenal sebagai kesatria perkasa berotot kawat bertulang besi. Ia adalah anak Bima, ibunya Dewi Arimbi. Dalam pewayangan, Gatotkaca adalah seorang raja muda di Pringgadani, yang rakyatnya hampir seluruhnya terdiri atas bangsa raksasa. Negeri ini diwarisinya dari ibunya. Sebelum itu, kakak ibunya yang bernama Arimba, menjadi raja di negeri itu. Sebagai raja muda di Pringgadani, Gatotkaca banyak dibantu oleh patihnya, Brajamusti, adik Arimbi.

      Begitu lahir di dunia, Gatotkaca telah membuat huru-hara. Tali pusarnya tidak dapat diputus. Berbagai macam pisau dan senjata tak mampu memotong tali pusar itu. Akhirnya keluarga Pandawa sepakat menugasi Arjuna mencari senjata ampuh untuk keperluan itu. Sementara itu para dewa pun tahu peristiwa itu. Untuk menolongnya Bhatara Guru mengutus Bhatara Narada turun ke bumi membawa senjata pemotong tali pusar Gatotkaca. Namun Bhatara Narada membuat kekeliruan. Senjata, yang bernama Kunta Wijayandanu, itu bukan diserahkan pada Arjuna, melainkan pada Karna yang wajah dan penampilannya mirip Arjuna. Untuk memeroleh senjata pemberian dewa itu Arjuna terpaksa mencoba merebutnya dari tangan Karna. Usahanya ini tak berhasil. Arjuna hanya dapat merebut sarung (warangka) senjata sakti itu. Sedangkan bilah senjata Kunta tetap dilarikan Karna. Untunglah ternyata sarung Kunta itu pun dapat digunakan memotong tali pusar Gatotkaca. Namun, begitu tali pusar itu putus, warangka Kunta langsung melesat masuk ke dalam pusar bayi itu.

     Setelah tali pusarnya putus, atas izin Bima dan keluarga Pandawa lainnya, Gatotkaca dibawa Bhatara Narada ke Kahyangan untuk menghadapi Kala Sakipu dan Kala Pracona yang mengamuk. Mula-mula Bima dan Dewi Arimbi tidak merelakan anaknya yang baru lahir itu dibawa Narada. Namun, setelah dewa itu menjelaskan bahwa menurut ramalan para dewa, Kala Sakipu dan Kala Pracona memang hanya dikalahkan oleh bayi yang dinamakan Tutuka itu, Bima dan Arimbi mengizinkan.

     Di kahyangan, bayi Tutuka langsung ditaruh di hadapan kedua raksasa sakti itu. Kala Sakipu langsung memungut bayi itu dan mengunyahnya, tetapi ternyata Tutuka bukan bayi biasa. Tubuhnya tetap utuh, walau raksasa itu mengunyah kuat-kuat. Karena kesal, bayi itu dibantingnya sekuat tenaga ke tanah. Tutuka pingsan.
Setelah ditinggal pergi kedua raksasa itu, bayi Tutuka diambil oleh Batara Narada, dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka. Di sini Gatotkaca digembleng oleh Empu Bhatara Anggajali. Setelah penggemblengan selesai, begitu muncul kembali dari Kawah Candradimuka, bayi itu sudah berubah ujud menjadi kesatria muda yang perkasa. Ia mengenakan caping Basunanda, penutup kepala gaib yang menyebabkannya tidak akan kehujanan dan tidak pula kepanasan, serta terompah Padakacarma yang jika digunakan menendang, musuhnya akan mati.

      Para dewa lalu menyuruhnya berkelahi melawan balatentara raksasa pimpinan Prabu Kala Pracona dan Patih Kala Sakipu lagi. Gatotkaca ternyata sanggup menunaikan tugas itu dengan baik. Kala Pracona dan Kala Sakipu dapat dibunuhnya.
     Dalam pewayangan Gatotkaca memunyai tiga orang istri. Istri pertamanya Dewi Pregiwa, anak Arjuna. Istrinya yang kedua Dewi Sumpani, dan yang ketiga Dewi Suryawati, putri Bhatara Surya. Dari perkawinan dengan Pergiwa, Gatotkaca mendapat seorang anak bernama Sasikirana. Dengan Dewi Sumpani ia memunyai anak bernama Arya Jayasumpena. Sedangkan Suryakaca adalah anaknya dari Dewi Suryawati.
     Dalam Bharatayuda Gatotkaca diangkat menjadi senapati dan gugur pada hari ke-15 oleh senjata Kunta yang dilemparkan Karna. Senjata Kunta Wijayandanu itu melesat menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam warangkanya.

     Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu akan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena itu ketika Karna melemparkan senjata Kunta, ia terbang amat tinggi. Namun senjata sakti itu terus saja memburunya, sehingga akhirnya Gatotkaca gugur. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Kurawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga yang hancur hanyalah kereta perangnya. Sebenarnya, sewaktu berhadapan dengan Gatotkaca, Adipati Karna enggan menggunakan senjata Kunta. Ia merencanakan hanya akan menggunakan senjata sakti itu bila nanti berhadapan dengan Arjuna. Namun ketika Prabu Duryudana menyaksikan betapa Gatotkaca telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan di pihak Kurawa, ia mendesak agar Karna menggunakan senjata pamungkas itu.

      Akibatnya, sesudah Gatotkaca gugur, sebenarnya Karna sudah tidak lagi memiliki senjata sakti yang benar-benar dapat diandalkan. Sebagai raja muda Pringgadani, Gatotkaca bergelar Prabu Anom Kacanagara. Namun, gelar ini hampir tidak pernah disebut dalam pergelaran wayang. Nama lain Gatotkaca yang lebih terkenal adalah Tutuka, Guritna, Gurubaya, Purbaya, Bimasiwi, Krincingwesi, Arimbiatmaja, dan Bimaputra. Pada Wayang Golek Purwa Sunda, ada lagi nama alias Gatotkaca, yakni Kalananata, Kancingjaya, Trincingwesi, dan Mladangtengah. Gatotkaca amat sayang pada sepupunya, Abimanyu. Sewaktu Abimanyu hendak menikah dengan Siti Sundari, Gatotkaca banyak memberikan bantuannya.

      Pengangkatan Gatotkaca sebagai penguasa Pringgadani sebenarnya tidak disetujui pamannya, Brajadenta.  Adik Dewi Arimbi ini menganggap dirinya lebih pantas menduduki jabatan itu, karena ia lelaki dan anak kandung Prabu Trembaka--raja Pringgadani terdahulu. Untuk berhasilnya pemberontakan yang dilakukannya Brajadenta minta dukungan Bhatari Durga dan Kurawa. Namun pemberontakan ini gagal karena Brajadenta ditentang adik-adiknya, terutama Brajamusti. Brajadenta akhirnya mati bersama-sama dengan Brajamusti, ketika mereka berperang tanding. Arwah Brajadenta akhirnya menyusup ke telapak tangan kanan Gatotkaca, sedang arwah Brajamusti di tangan kirinya. Dengan demikian kesaktian Gatotkaca makin bertambah.

      Gatotkaca pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Ia sampai hati membunuh Kalabendana, hanya karena pamannya itu mengatakan pada Dewi Utari bahwa Abimanyu akan menikah lagi dengan Dewi Utari. Padahal Kalabendana adalah pengasuhnya sejak bayi, dan amat menyayangi Gatotkaca. Menjelang ajalnya, Kalabendana mengatakan bahwa ia tidak mau masuk ke surga bilamana tidak bersama-sama dengan Gatotkaca. Karena itu, ketika Gatotkaca menghindari senjata Kunta Wijayandanu dengan cara terbang setinggi-tingginya, arwah Kalabendana mendorong senjata sakti itu sehingga dapat mencapai pusar putra kesayangan Bima itu.
     Menjelang Bharatayuda, Gatotkaca pernah bertindak kurang bijaksana. Ia mengumpulkan saudara-saudaranya, para putra Pandawa, untuk mengadakan latihan perang di Tegal Kurusetra. Tindakannya ini dilakukan tanpa izin dan pemberitahuan kepada para Pandawa. Baru saja latihan perang itu dimulai, datanglah utusan dari Kerajaan Astina yang dipimpin oleh Dursala, putra Dursasana, yang menuntut agar latihan perang itu segera dihentikan. Gatotkaca dan saudara-saudaranya menolak tuntutan itu. Maka terjadilah perang tanding antara Gatotkaca dengan Dursala. Pada perang tanding itu Gatotkaca terkena pukulan Aji Gineng yang dimilliki oleh Dursala, sehingga pingsan. Ia segera diamankan oleh saudara-saudaranya, para putra Pandawa. Di tempat yang aman Antareja menyembuhkannya dengan Tirta Amerta yang dimilikinya. Gatotkaca langsung pulih seperti sedia kala. Namun, ia sadar, bahwa kesaktiannya belum bisa mengimbangi Dursala. Selain malu, Gatotkaca saat itu juga tergugah untuk menambah ilmu dan kesaktiannya.

      Ia lalu berguru pada Resi Seta, putra Prabu Matswapati dari Wirata. Dari Resi Seta putra Bima itu mendapatkan Aji Narantaka. Setelah menguasai ilmu sakti itu Gatotkaca segera pergi mencari Dursala. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Dewi Sumpani, yang menyatakan keinginannya untuk diperistri. Gatotkaca menjawab, jika mampu menerima hantaman aji Narantaka, maka ia bersedia memperistri wanita cantik itu. Dewi Sumpani ternyata mampu menahan aji Narantaka. Sesuai janjinya, Gatotkaca lalu memperistri Dewi Sumpani. Dari perkawinan itu mereka kelak mendapat anak yang diberi nama Jayasumpena. Ada pun keinginan Gatotkaca untuk bertemu kembali dengan Dursala akhirnya terlaksana. Dalam pertempuran yang kedua kalinya ini, dengan aji Narantaka itu Gatotkaca mengalahkan Dursala.

      Berbagai lakon yang melibatkan Gatotkaca:
1. Gatotkaca Lahir;
2. Pregiwa - Pregiwati;
3. Gatotkaca Sungging;
4. Gatotkaca Sewu;
5. Gatotkaca Rebutan Kikis;
6. Wahyu Senapati;
7. Brajadenta - Brajamusti;
8. Kalabendana Lena;
9. Gatotkaca Rante;
10. Sumbadra Larung;
11. Aji Narantaka;
12. Gatotkaca Gugur.    
     Meskipun Gatotkaca selalu dilukiskan gagah perkasa, tetapi pecinta wayang pada umumnya tidak menganggapnya memiliki kesaktian yang hebat. Dalam pewayangan, lawan-lawan Gatotkaca biasanya hanyalah raksasa-raksasa biasa, yakni Butaprepat, yang seringkali dibunuhnya dengan cara memuntir kepalanya. Dalam perang melawan raksasa, Gatotkaca selalu bahu membahu dengan Abimanyu. Gatotkaca menyambar dari udara, Abimanyu di darat. Lawan-lawan Gatotkaca yang cukup sakti hanyalah Prabu Kala Pracona, Patih Kala Sakipu, Boma Narakasura, dan Dursala.
     Karena Dewi Arimbi sesungguhnya seorang raseksi (raksasa perempuan), maka dulu Gatotkaca dalam Wayang Kulit Purwa digambarkan berujud raksasa, lengkap dengan taringnya. Namun sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, penampilan peraga wayang Gatotkaca dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa diubah menjadi kesatria tampan dan gagah, dengan wajah mirip Bima. Yang diambil sebagai pola adalah bentuk seni rupa wayang peraga Antareja tetapi diberi praba.

      Nama Gatotkaca berarti rambut gelung bundar. Gatot artinya "sesuatu yang berbentuk bundar", sedangkan kaca artinya "rambut". Nama itu diberikan karena waktu lahir, anak Bima itu telah bergelung rambut bundar di atas kepalanya.

      Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, tokoh Gatotkaca ditampilkan dalam enam wanda, yakni wanda Kilat, Tatit, Guntur, Panglawung, Gelap, dan Dukun. Pada tahun 1960-an Ir. Sukarno, Presiden RI, menambah lagi dengan tiga wanda ciptaannya, yakni Gatotkaca wanda Guntur Geni, Guntur Prahara, dan Guntur Samodra. Pelaksanaan pembuatan wayang Gatotkaca untuk ketiga wanda itu dilakukan oleh Ki Cerma Saweda dari Surakarta.

     Mengenai soal wanda ini, ada sedikit perbedaan antara seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dengan gagrak Yogyakarta. Di Surakarta, wanda-wanda Gatotkaca adalah wanda Tatit yang diciptakan oleh raja Kartasura, Paku Buwana II (1655 Saka atau 1733 Masehi). Bentuk badannya tegap, mukanya tidak terlalu tunduk, bahu belakang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan bahu depan.

     Wanda Kilat diciptakan pada zaman pemerintahan Paku Buwana I, yakni pada tahun 1627 Saka (1705 M). Kedudukan bahu depan dan bahu belakang rata, mukanya agak tunduk tetapi tidak setunduk pada wanda Tatit, pinggangnya lebih ramping dan posisinya agak maju, sehingga menampilkan kesan gagah. Wanda Gelap berkesan bentuk badan yang lebih kekar dan tegap, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan dengan bahu depan, sedangkan mukanya lebih tunduk ke bawah dibandingkan dengan wanda Tatit. Kapan dan oleh siapa wanda ini diciptakan, tidak diketahui dengan jelas.
     Gatotkaca wanda Gelap merupakan ciptaan keraton terakhir, yakni pada zaman pemerintahan Paku Buwana IV (1788 - 1820) di Surakarta. Badannya kekar dan kokoh, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan bahu depan, dengan muka agak datar. Pinggangnya langsing seperti pada wanda Kilat.

     Wanda Guntur, yang diciptakan pada tahun 1578 Saka (1656 M) merupakan wanda Gatotkaca yang tertua dalam bentuknya yang kita kenal sekarang ini. Dulu, sebelum diciptakan peraga Gatotkaca wanda Guntur, Wayang Kulit Purwa menggambarkan bentuk Gatotkaca sebagai raksasa, dengan tubuh besar, wajah raksasa, lengkap dengan taringnya. Dengan pertimbangan bahwa wajah seorang anak tentu tidak jauh beda dengan orang tuanya, Sunan Amangkurat Seda Tegal Arum, Raja Mataram, memerintahkan para penatah dan penyungging keraton untuk menciptakan bentuk baru peraga Gatotkaca dengan meninggalkan bentuk raksasa sama sekali.

     Tubuh dan wajahnya dipantaskan sebagai anak Bima. Maka terciptalah bentuk baru Gatotkaca yang disebut wanda Guntur itu. Bentuk badan Gatotkaca wanda Guntur menampilkan kesan kokoh, kuat, dengan bahu depan lebih rendah daripada bagu belakang, seolah mencerminkan sifat andap asor. Wajahnya juga memandang ke bawah, tunduk. Pinggangnya tidak seramping pinggang Gatotkaca wanda Kilat. Secara keseluruhan bentuk tubuh wanda Guntur seolah condong ke depan.

      Sementara itu, seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, membagi Gatotkaca atas empat wanda, yakni wanda Kutis yang biasanya dimainkan untuk adegan perang ampyak; wanda Prabu yang menampilkan kesan berwibawa, khusus ditampilkan pada kedudukan Gatotkaca sebagai raja di Pringgadani; wanda Paseban dipakai kalau Gatotkaca sedang menghadap para Pandawa; dan wanda Dukun dipakai jika Ki Dalang menampilkan adegan Gatotkaca sedang bertapa. Bentuk bagian perut Gatotkaca wanda Dukun ini, agak gendut dibandingkan ukuran perut Gatotkaca pada wanda-wanda lainnya.

Hangyanawati
     DEWI HANGYANAWATI atau YADNYANAWATI adalah putri Prabu Narakasura, raja negara Surateleng dengan permaisuri Dewi Yadnyagini. Ia berwajah sangat cantik dan memiliki sifat: lembut, sederhana, baik budi, penuh belas kasih, dan teguh dalam pendirian. Dewi Hagnyanawati adalah titisan Bhatari Dermi, istri Bhatara Derma, yang menitis pada Raden Samba/Wisnubrata, putra Prabu Kresna dengan permaisuri Dewi Jembawati.

    Setelah Prabu Narakasura tewas dalam peperangan di negara Dwarawati melawan Bambang Sitija, putra Prasbu Kresna dengan Dewi Pertiwi dan negara Surateleng, dikuasai Bambang Sitija. Dewi Hagnyanawati sendiri diperistri oleh Bambang Sitija yang setelah menjadi raja negara Surateleng dan Prajatisa bergelar Prabu Bomanarakasuira. Dari perkawinan ini ia memeroleh seorang putra: Arya Watubaji. Sesuai dengan ketentuan dewata, karena tiba saatnya titis Bhatari Dermi harus bersatu kembali dengan titis Bhatara Derma, suaminya, dengan bantuan Dewi Wilutama, Dewi Hagnyanawati dipertemukan dengan Raden Samba, di keputrian negera Surateleng. Setelah ada kesepakatan, mereka kemudian meninggalkan keputrian Surateleng pergi ke negara Dwarawati.

    Perbuatan Dewi Hangnyawati dan Raden Samba ini membangkitkan kemarahan Prabu  Bomanarakasura, yang segera menyerang negara Dwarawati untuk merebut kembali Dewi Hangnyanawati istrinya. Prabu Bomanarakasura tewas dalam peperangan melawan Prabu Kresna, ayahnya sendiri. Dewi Hagnyanawati kemudian menjadi istri Raden Samba, sesuai dengan takdir dewata.
     Diceritakan, Dewi Hagnyanawati mati bunuh diri terjun ke dalam pancaka (api pembakaran jenazah) bela mati atas kematian Raden Samba yang tewas dalam peristiwa perang gada sesama Wangsa Yadawa

Irawan
     BAMBANG IRAWAN adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Ulupi, putri Bagawan Kanwa (Bagawan Jayawilapa: Jawa), dari pertapaan Yasarata. Ia memunyai 13 orang saudara lain ibu, yakni: Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabukusuma, Wijanarka, Antakadena, dan Bambang Sumbada.

     Irawan lahir di pertapaan Yasarata dan sejak kecil tinggal di pertapaan bersama ibu dan kakeknya. Ia berwatak tenang, jatmika, tekun, dan wingit. Menurut kisah pedalangan Irawan tewas dalam peperangan melawan Ditya Kalasrenggi putra Prabu Jatagempol dengan Dewi Jatagini dari negara Gowabarong, menjelang pecah Bharatayuda. Menurut Mahabharata, Irawan gugur dalam awal Perang Bharatayuda melawan Ditya Kalaseringgi, raja negara Gowabarong yang berperang di pihak Kurawa/Astina.

Jahnawi
     Dewi JAHNAWI atau Dewi GANGGA (Mahabharata) adalah seorang hapsari/bidadari yang turun ke Arcapada karena kutukan Bhatara Brahma. Ia ditetapkan akan bersuamikan Bhatara Mahabhima yang karena kutukan Bhatara Brahma akan menjelma menjadi putra Prabu Pratipa, raja negara Astina.

     Dewi Jahnawi menikah dengan Prabu Santanu, putra Prabu Pratipa dari negara Astina dengan permaisuri Dewi Sumanda. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh delapan orang putra, tetapi hanya seorang yang ia kehendaki hidup dan diberi nama Dewabrata (kelak lebih dikenal sebagai Resi Bisma). Sedangkan tujuh putranya yang lain begitu lahir ia buang ke Sungai Gangga.

     Sesuai perjanjiannya dengan Prabu Santanu, begitu kelahiran Dewabrata, Dewi Jahnawi kembali ke kahyangan hidup sebagai hapsari/bidadari. Bayi Dewabrata ia serahkan pada asuhan Prabu Santanu.

Jarameya dan Jurangmeya
     JARAMEYA dan JURANGMEYA adalah makhluk siluman berwujud raksasa kembar di hutan Krendayana.  Mereka bertugas atas perintah Bhatari Durga, raja siluman yang bertakhta di Kahyangan Setragandamayit. Tugas yang utama Jarameya dan Jurangmeya adalah mengganggu para kesatria yang sedang bertapa.

     Sebagi makhluk siluman Jarameya dan Jurangmeya sangat sakti. Sesuai dengan kodratnya, ia hanya bisa disakiti, dikalahkan, tetapi tidak bisa mati. Karena itu Jarameya dan Jurangmeya selalu saja muncul dan menganggu para pertapa.

Jarasanda
      PRABU JARASANDA adalah raja negara Magada. Ia masih keturunan Prabu Darmawisesa, raja raksasa dari negara Widarba. Karenanya berbadan tinggi besar, gagah, perkasa dan berwajah setengah raksasa. Prabu Jarasanda berwatak angkara murka, ingin menang sendiri, penganiaya, bengis, keras hati, serta selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti, dengan dukungan sahabat karibnya yang juga sekutunya, Prabu Supala raja negara Kadi, Prabu Jarasanda berkeinginan menjadi raja besar yang menguasai jagad raya.

      Untuk memenuhi ambisinya, Prabu Jarasanda bermaksud menyelenggarakan persembahan darah seratus orang raja kepada Bhatari Durga. Karena niat jahatnya itu bertentangan dengan kodrat hidup dan dapat merusak ketenteraman jagad raya, maka ia harus berhadapan dengan Bhatara Wisnu. Prabu Jarasanda akhirnya tewas dalam pertempuran melawan Bima/Werkudara. Tubuhnya hancur terkena hantaman gada Rujakpala.

Jatagempol
     PRABU JATAGEMPOL adalah raja raksasa di negara Guwabarong. Ia masih keturunan Prabu Kalasasradewa, raja raksasa di negara Guwamiring yang tewas dalam pertempuran melawan Prabu Pandu. Karena ia dan prajuritnya menyerang negara Mandura untuk merebut Dewi Arumbini, istri Arya Prabu Rukma.

      Karena ketekunannya bertapa, Prabu Jatagempol menjadi sangat sakti, berwatak angkara murka, bengis dan selalu ingin menang sendiri. Prabu Jatagenpol menikah dengan Dewi Jatagini, dan memunyai seorang anak bernama Kalasrenggi.
     Untuk membalas dendam kematian Prabu Kalasasradewa, ayahnya, Prabu Jatagempol menyerang negara Amarta. Ia ingin membinasakan keluarga Pandawa yang merupakan keturunan Prabu Pandu. Prabu Jatagempol tewas dalam pertempuran melawan Arjuna. Tubuhnya hancur terkena panah Kiai Sarotama.

Jayadrata
    Arya JAYADRATA nama sesungguhnya adalah Arya Tirtanata atau Bambang Sagara. Ia putra angkat Resi Sapwani/Sempani dari padepokan Kalingga, yang tercipta dari bungkus Bima/Werkudara. Arya Tirtanata kemudian dinobatkan sebagai raja negara Sindu, dan bergelar Prabu Sinduraja.

      Karena ingin memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata pemerintahan dan tata kenegaraan, Prabu Sinduraja pergi ke negara Astina untuk berguru pada Prabu Pandu Dewanata. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri, ia menukar namanya dengan nama patihnya, Jayadrata. Di negara Astina Jayadrata bertemu dengan keluarga Kurawa, dan akhirnya diambil menantu Prabu Drestarasta, dikawinkan dengan Dewi Dursilawati (bungsu Kurawa) dan diangkat sebagai Adipati Buanakeling. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh dua orang putra bernama Arya Wirata dan Arya Surata.

      Jayadrata mempunyai sifat perwatakan berani, penuh kesungguhan, dan setia. Ia mahir mempergunakan panah dan sangat ahli bermain gada. Oleh Resi Sapwani ia diberi pusaka gada bernama Kiai Glinggang. Jayadrata tewas oleh Arjuna di medan Bharatayuda sebagai senapati perang Kurawa. Kepalanya terpangkas lepas dari badannya oleh panah sakti Pasopati.

Jayamurcita

     PRABU JAYAMURCITA adalah raja negara Plangkawati. Ia memunyai adik kandung benrama Jayasemadi yang menjabat patih nagera Plangkawati. Mereka masih keturunan Prabu Kumbala, raja negara Madukara (lama).
     Merasa sangat sakti, Prabu Jayamurcita, mengutus adiknya, Patih Jayasemedi pergi ke negara Madukara untuk melamar Dewi Sumbadra, istri Arjuna. Perbuatannya yang lancang tersebut menimbulkan kemarahan Abimanyu, putra tunggal Dewi Sumbadra dengan Arjuna. Dengan bantuan saudara sepupunya, Raden Gatotkaca, raja negara Pringgandani, Abimanyu menyerang negara Plangklawati. Patih Jayasemedi tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca, sedangkan Prabu Jayamurcita tewas oleh Abimanyu oleh tusukan keris Pulanggeni.

      Sebelum menemui ajalnya, Prabu Jayamurcita menyerahkan kekuasaan negara Plangkawati beserta gelar keprabuannya dan seluruh balatentaranya kepada Abimanyu. Prabu Jayamurcita kemudian mati moksa, sukmanya manunggal dalam tubuh Abimanyu.

Jayasupena
      Arya JAYASUPENA atau JAYASUMPENA adalah putra Gatotkaca, raja negara Pringgandani dengan Dewi Sumpani, putri Prabu Sarawisesa dari negara Selarengka. Ia memunyai dua orang saudara seayah lain ibu, bernama: Bambang Sasikirana (putra Dewi Pregiwa) dan Arya Suryakaca (putra Dewi Suryawati, putri Bathara Surya dengan permaisuri Dewi Ngruni).

      Arya Jayasupena tidak ikut terjun ke kancah Bharatayuda, karena ketika perang berlangsung ia masih kecil. Ia berperawakan mirip dengan ayahnya, Gatotkaca. Demikian pula dengan tabiat, kesetiaan, keberanian, dan kegagahannya tak berbeda dengan Gatotkaca: berani, teguh, tangguh, cerdik pandai, waspada, gesit, tangkas dan terampil, tabah, dan memunyai rasa tanggung jawab yang besar. Perbedaannya, Jayasupena tidak bisa terbang.

      Setelah berakhir Perang Bharatayuda dan negara Astina kembali ke dalam kekuasaan Pandawa, Arya Jayasupena diangkat menjadi panglima perang negara Astina dalam masa pemerintahan Prabu Parikesit, anak Abimanyu.

Jembawati
      DEWI JEMBAWATI adalah putri tunggal Resi Jembawan (berwujud kera/wanara) dari pertapaan Gadamadana, dengan Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana dengan Dewi Triwati (seorang hapsari/bidadari) dari negara Alengka/Singgela.

      Sesuai janji dewata kepada Dewi Trijata, ibunya, Dewi Jembawati dapat bersuamikan Prabu Kresna, raja negara Dwarawati, titisan terakhir Sang Hyang Wisnu. Dari perkawinan tersebut, ia memeroleh dua orang putra bernama: Samba, yang berwajah sangat tampan, dan Gunadewa, berwujud sebagai kera, karena garis keturunan dari Resi Jembawan.

      Dewi Jembawati berwatak jujur, setia, sabar, sangat berbakti, dan penuh belas kasih. Selama menjadi permaisuri Prabu Kresna, ia lebih sering tinggal di pertapaan Gadamadana mengasuh Gunadewa, daripada tinggal di istana Dwarawati. Ia meninggal dalam usia lanjut dan dimakamkan di pertapaan Gadamadana.

Jungkungmadeya
      PRABU JUNGKUNGMADEYA adalah raja negara Awu-awulangit. Tokoh Jungkungmardeya hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa dan dimunculkan dalam lakon cocogan. Prabu Jungkungmardeya sangat sakti, selain memiliki aji Sirep juga dapat beralih rupa.

      Prabu Jungkungmardeya bercita-cita ingin memperistri Dewi Srikandi, putri kedua Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala. Ketika lamarannya ditolak, dengan beralih rupa menjadi Arya Drestadyumna (adik Dewi Srikandi) palsu dan berhasil memasuki keputrian Pancala dan menculik Dewi Srikandi. Drestadyumna yang mengetahui perbuatannya, berusaha merebut Dewi Srikandi dari tangan Prabu Jungkungmardeya, tapi akhirnya tewas terbunuh dalam peperangan.

      Untuk membebaskan Dewi Srikandi, Prabu Drupada kemudian meminta bantuan keluarga Pandawa. Karena mati sebelum takdir, Drestadyumna dapat dihidupkan kembali oleh Prabu Kresna, raja negara Dwarawati, berkat kesaktian bunga Wjayakusuma. Arjuna yang mengejar ke negara Awu-awulangit berhasil menemukan Dewi Srikandi. Prabu Jungkungmardeya akhirnya tewas dalam peperangan melawan Arjuna dengan panah Pasopati.

Kalabendana
      ARYA KALABENDANA adalah putra bungsu Prabu Arimbaka raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia memunyai tujuh orang saudara kandung, bernama: Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Prabkesa, Brajamusti, Brajalamatan, dan Brajawikalpa.

      Kalabendana bersifat: jujur, setia, suka berterus terang dan tidak bisa menyimpan rahasia. Kalabendana meninggal karena pukulan/tamparan Gatotkaca yang tidak sengaja membunuhnya. Tamparan Gatotkaca ke kepala Kalabendana hanya bermaksud menghentikan teriakan Kalabendana yang membuka rahasia perkawinan Abimanyu dengan Siti Sundari (putri Prabu Kresna dengan Dewi Pratiwi) tatkala Abimanyu akan menikah dengan Dewi Utari (putri bungsu Prabu Matswapati dengan Dewi Ni Yutisnawati) dari Wirata.

      Dendam Kalabendana terhadap Gatotkaca terlampiaskan saat berlangsung Perang Bharatayuda. Arwahnya mengantar/menuntun senjata Kunta yang dilepas Adipati Karna, Raja Awangga, tepat menghujam masuk ke dalam pusar Gatotkaca yang mengakibatkan kematiannya.

Kalakatung
      KALAKATUNG atau sering pula disebut dengan BUTATERONG adalah raksasa hutan. Ia bertubuh gemuk pendek, kepala gundul, dan berhidung besar bulat seperti terong. Dalam cerita pedalangan, Kalakatung biasa ditampilkan sebagai anak buah Cakil atau Yayahgriwa.

      Kalakatung biasanya berpenampilan lucu karerna suaranya yang bindeng (memiliki suara hidung yang setengah tersendat). Daya berpikirnya lambat, namun memiliki gerakan yang cekatan. Karena pembawaannya yang agak tolol ini, maka ia selalu menjadi bahan ejekan para panakawan. Dalam peperangan, Kalakatung biasanya mati oleh Gareng atau Petruk.

Kalaruci
      PRABU KALARUCI adalah raja raksasa negara Karanggubarja. Ia masih keturnan Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni dari kahyangan Setragandamayit. Prabu Kalaruci mempunyai saudara kandung bernama Kalayaksadewa yang menjadi raja di negara Gowamiring.

     Merasa sangat sakti, Pabu Kalaruci datang ke Suralaya untuk meminang Dewi Wersini, seorang bidadari keturunan Sang Hyang Pancaresi, yang waktu itu telah diperjodohkan dengan Arya Ugrasena, putra keempat Prabu Basukunti, dari negara Mandura. Arya Ugrasena yang didatangan ke Suralaya, ternyata tak mampu mengalahkan Prabu Kalaruci.

      Bhatara Guru kemudian mengutus Bhatara Narada turun ke Arcapada untuk meminta bantuan Prabu Pandu, raka negara Astina, yang juga kakak ipar Ugrasena (Pandu menikah dengan Dewi Kunti, kakak Arya Ugrasena). Pandu kemudian pergi ke Suralaya dengan mengerahkan pasukan Astina di bawah pimpinan Patih Gandamana dan Arya Sucitra. Dalam peperangan tersebut, Prabu Kalaruci dapat dibinasakan oleh Pandu. Dewi Wersini dan negara Karanggubarja kemudian disertahkan kepada Arya Ugrasena.

Kalasasradewa
      Prabu KALASASRADEWA adalah raja raksasa negara Guwamiring. Ia mamunyai dua saudara kandung, bernama; Prabu Kalarodra raja di negara Girikadasar dan Prabu Kalayaksa yang menjadi di negara Garbasumanda. Mereka masih keturunan Bhatara Kalagotama, putra Bhatara Kala dengan Dewi Pramuni dari Kahyangan Setragandamayit.

      Sebagai keturunan Dewi Pramuni/Bhatari Durga, Prabu Kalasasradewa sangat sakti. Ia berwatak angkara murka, serakah, tinggi hati, dan mau menang sendiri. Ia pernah menyerang negara Kumbina untuk dapat memperistri Dewi Rumbini, putri Prabu Rumbaka, yang sudah dipertunangkan dengan Arya Prabu Rukma, putra ketiga Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Peperangan pun tidak dapat dihindarkan antara Mandura melawan Gowamiring. Dalam peperangan tersebut semua putra-putra Mandura, seperti Arya Prabu Rukma, Arya Ugrasena, juga Prabu Basudewa tidak dapat mengalahkan Prabu Kalasasradewa.

      Prabu Basudewa kemudian meminta bantuan Prabu Pandu, raja negara Astina, suami dari Dewi Kunti (adik Prabu Basudewa). Prabu Kalasasradewa akhirnya tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu.

Kalayasa
      PRABU KALAYAKSA adalah raja raksasa negara Garbasumanda. Ia mempunyai dua saudara kandung masing-masing bernama; Prabu Kalarodra raja nergara Girikadasar dan Prabu Kalasasradewa yang menjadi raja di negara Guwamiring. Mareka masih keturunan Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni/Bathari Durga dari Kahyangan Setragandamayit.

      Prabu Kalayaksa memiliki watak: bengis, kejam, serakah, suka menurutkan kata hati, mau menang sendiri, pemberani, dan sangat sakti. Prabu Kalayaksa nenjadi seteru negara Mandura, sejak jaman pemerintahan Prabu Baskunti. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan angkatan perannya, Prabu Kalayaksa menyerang negara Mandura. Selain ingin merebut Dewi Badrahini, istri Prabu Basudewa, juga untuk membalas dendam atas kematian saudaranya, Prabu Kalasasradewa yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu di negara Mandura.

      Prabu Kalayaksa berhasil menguasai sebagian wilayah negara Mandura, bahkan nyaris menguasai Kerajaan Mandura, karena tidak satupun putra-putra Mandura yang berthasil menandingi kesaktiannya. Tapi akhirnya Prabu Kalayaksa mengalami nasib yang sama seperti Prabu Kalasasradewa. Ia tewas dalam pertempuran melawan Prabu Pandu, raja negara Astina. Kematian Prabu Kalayaksa bertepatan dengan kelahiran Raden Arjuna atau Permadi, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti.

Kangsa
      KANGSA, sering disebut KANGSADEWA sesungguhnya putra Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang beralih rupa menjadi Prabu Basudewa dan berhasil bermain asmara dengan Dewi Mahira/ (Jawa: Maerah), permaisuri Prabu Basudewa, raja Mandura. Ia lahir di negara Bombawirayang, dan sejak kecil hidup dalam asuhan Ditya Suratrimantra, adik Prabu Gorawangsa.

      Setelah remaja, oleh Suratrimantra, Kangsa dibawa ke negara Mandura untuk menuntut haknya sebagai putra Prabu Basudewa. Karena sangat sakti, Prabu Basudewa akkhirnya bersedia mengakui Kangsa sebagi putranya dan diberi kedudukan adipati di Kesatrian Sengkapura. Kangsa berwatak angkara murka, ingin menang sendiri, pengkhianat, keras hati, dan selalu menurutkan kata hati.

      Dengan dukungan Suratimantra, pamannya yang sakti, Kangsa berniat merebut takhta kekuasaan negara Mandura dari tangan Prabu Basudewa. Pemberontakan Kangsa gagal. Ia mati terbunuh dalam peperangan melawan Kakrasana dan Narayana, putra Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahendra. Sedangkan Suratimatra tewas melawan Bima/Werkudara, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti.

Tokoh-tokoh Pewayangan (Mahabharata 1)

MAHABHARATA

Abimanyu
     ABIMANYU dikenal pula dengan nama: Angkawijaya, Jayamurcita, Jaka Pangalasan, Partasuta, Kirityatmaja, Sumbadraatmaja, Wanudara, dan Wirabatana. Ia merupakan putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Sumbadra, putri Prabu Basudewa, raja Negara Mandura dengan Dewi Badrahini. Abimanyu memunyai 13 orang saudara lain ibu, yaitu: Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabakusuma, Wijanarka, Anantadewa, dan Bambang Sumbada.

     Abimanyu merupakan makhluk kekasih Dewata. Sejak dalam kandungan ia telah mendapat Wahyu Hidayat, yang membuatnya mengerti dalam segala hal. Setelah dewasa ia mendapat Wahyu Cakraningrat, suatu wahyu yang dapat menurunkan raja-raja besar. Abimanyu memunyai sifat dan perwatakan: halus, baik tingkah laku, ucapannya terang, hatinya keras, besar tanggung jawab, dan pemberani. Dalam olah keprajuritan ia mendapat ajaran dari ayahnya, Arjuna; sedang dalam olah ilmu kebatinan mendapat ajaran dari kakeknya, Bagawan Abiyasa.

     Abimanyu tinggal di Kesatrian Palangkawati, setelah dapat mengalahkan Prabu Jayamurcita. Ia memunyai dua orang istri, yaitu: 1. Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna, Raja Dwarawati dengan Dewi Pratiwi, dan 2. Dewi Utari, putri Prabu Matswapati dengan Dewi Ni Yutisnawati, dari negara Wirata, dan berputra Parikesit. Abimanyu gugur dalam Perang Bharatayuda oleh gada Kiai Glinggang milik Jayadrata, satria Banakeling.

Amba
     DEWI AMBA adalah putri sulung dari tiga bersaudara, putri Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura dengan peramisuri Dewi Swargandini. Kedua adik kandungnya bernama; Dewi Ambika/Ambalika dan Dewi Ambiki/Ambaliki.

     Dewi Amba dan kedua adiknya menjadi putri boyongan Resi Bisma/Dewabrata, putra Prabu Santanu dengan Dewi Jahnawi/Dewi Gangga dari negara Astina yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negara Giyantipura dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka. Karena merasa sebelumnya telah dipertunangkan dengan Prabu Citramuka, raja negara Swantipura, Dewi Amba memohon kepada Dewabrata agar dikembalikan kepada Prabu Citramuka.

     Persoalan mulai timbul. Dewi Amba yang ditolak oleh Prabu Citramuka karena telah menjadi putri boyongan, keinginannya ikut ke Astina juga ditolak Dewabarata. Karena Dewi Amba terus mendesak dan memaksanya, akhirnya tanpa sengaja ia tewas oleh panah Dewabrata yang semula hanya bermaksud untuk menakutnakutinya. Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan, akan menuntut balas kematiannya dengan perantaraan seorang prajurit wanita.

     Kutukan Dewi Amba terhadap Dewabrata menjadi kenyataan. Dalam perang Bharatayuda arwahnya menjelma dalam tubuh Dewi Srikandi yang berhasil menewaskan Resi Bisma/Dewabrata.

Anggraini
     DEWI ANGGRINI adalah istri Prabu Ekalaya/Palgunadi, rajanegara Paranggelung. Ia berwajah cantik karena putri hapsari/bidadari Warsiki. Dewi Anggraini mempunyai sifat dan perwatakan; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami. Ketika terjadi permusuhan antara Prabu Ekalaya dengan Arjuna akibat dari perbuatan Arjuna yang menggangu dirinya, dan suaminya, Prabu Ekalaya mati dibunuh Resi Drona dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya yang memakai cincin sakti Mustika Ampal, Dewi Anggraini menunjukan kesetiaannya sebagai istri sejati. Ia melakukan bela pati, bunuh diri untuk kehormatan suami dan dirinya sendiri.

     Dewi Anggraini mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Walaupun menghadapi godaan yang berwujud keindahan dan kelebihan orang lain, namun Dewi Anggraini tetap teguh untuk cinta dan kesetianya

Antaboga
     Sang Hyang ANTABOGA atau Sang Hyang NAGASENA atau Sang Hyang ANANTABOGA atau Sang Hyang BASUKI adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia memunyai dua anak: Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

     Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara. Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1.000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti kulit (mlungsungi). Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala. Putrinya, Dewi Nagagini, menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa. Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja.

     Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Sumbadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Sumbadra Larung.

     Sang Hyang Antaboga pernah dimintai tolong Bhatara Guru menangkap Bambang Nagatatmala, anaknya sendiri. Waktu itu Nagatatmala kepergok sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Namun para dewa gagal menangkapnya karena kalah sakti. Karena Nagatatmala memang bersalah, walau itu anaknya, Sang Hyang Antaboga terpaksa menangkapnya. Namun Dewa Ular itu tidak menyangka Bhatara Guru akan menjatuhkan hukuman mati pada anaknya, dengan memasukkannya ke Kawah Candradimuka. Untung Dewi Supreti, istrinya, kemudian menghidupkan kembali Bambang Nagatatmala dengan Tirta Amerta.

     Bhatara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa ketika Sang Hyang Antaboga mlungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan. Batara Guru menamakan makhluk itu Candrabirawa.

     Sang Hyang Antaboga, ketika masih muda disebut Nagasesa. Walaupun ia cucu Sang Hyang Wenang, ujudnya tetap seekor naga, karena ayahnya yang bernama Antawisesa juga seekor naga. Ibu Nagasesa bernama Dewi Sayati, putri Sang Hyang Wenang.

     Suatu ketika para dewa berusaha mendapatkan Tirta Amerta yang membuat mereka bisa menghi-dupkan orang mati. Guna memeroleh Tirta Amerta para dewa harus mengebor dasar samudra. Mereka mencabut Gunung Mandira dari tempatnya, dibawa ke samudra, dibalikkan sehingga puncaknya berada di bawah, lalu memutarnya untuk melubangi dasar samudra itu. Namun setelah berhasil memutarnya, para dewa tidak sanggup mencabut kembali gunung itu. Padahal jika gunung itu tidak bisa dicabut, mustahil Tirta Amerta dapat diambil.
     Pada saat para dewa sedang bingung itulah Nagasesa datang membantu. Dengan cara melingkarkan badannya yang panjang ke gunung itu dan membetotnya ke atas, Nagasesa berhasil menjebol Gunung Mandira, dan kemudian menempatkannya di tempat semula. Dengan demikian para dewa dapat mengambil Tirta Amerta yang mereka inginkan. Itu pula sebabnya, Nagasesa yang kelak lebih dikenal dengan nama Sang Hyang Antaboga juga memiliki Tirta Amerta.  Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan Tirta Amerta, para dewa bukan mengebor samudra, melainkan mengaduk-aduknya. Ini didasarkan atas arti kata ngebur dalam bahasa Jawa, yang artinya mengaduk-aduk, mengacau, membuat air samudra menjadi kacau.

     Jasa Nagasesa yang kedua adalah ketika ia menyerahkan Cupu Linggamanik kepada Bhatara Guru. Para dewa memang sangat menginginkan cupu mustika itu. Waktu itu Nagasesa sedang bertapa di Guwaringrong dengan mulut terbuka. Tiba-tiba melesatlah seberkas cahaya terang memasuki mulutnya. Nagasesa langsung mengatupkan mulutnya, dan saat itulah muncul Bhatara Guru. Dewa itu menanyakan ke mana perginya cahaya berkilauan yang memasuki Guwaringrong. Nagasesa menjawab, cahaya mustika itu ada pada dirinya dan akan diserahkan kepada Bhatara Guru, bilamana pemuka dewa itu mau memeliharanya baik-baik. Bhatara Guru menyanggupinya, sehingga ia mendapatkan Cupu Linggamanik yang semula berujud cahaya itu.

     Cupu Linggamanik sangat penting bagi para dewa, karena benda itu berkhasiat dapat membawa ketenteraman di kahyangan. Itulah sebabnya semua dewa di kahyangan merasa berhutang budi pada kebaikan hati Nagasesa. Karena jasa-jasanya itu para dewa lalu mengha-diahi Nagasesa kedudukan yang sederajat dengan para dewa, dan berhak atas gelar bhatara atau sang hyang. Sejak itu ia bergelar Sang Hyang Antaboga. Para dewa juga memberinya hak sebagai penguasa alam bawah tanah. Tidak hanya itu, oleh para dewa Nagasesa juga diberi aji Kawastram yang membuatnya sanggup mengubah ujud dirinya menjadi manusia atau makhluk apa pun yang dikehendakinya.

     Untuk membangun ikatan keluarga, para dewa juga menghadiahkan seorang bidadari bernama Dewi Supreti sebagai istrinya. Perlu diketahui, cucu Sang Hyang Antaboga, yakni Antareja, hanya terdapat dalam pewayangan di Indonesia. Dalam Mahabharata, Antareja tidak pernah ada, karena tokoh itu memang asli ciptaan nenek moyang orang Indonesia.

     Sebagian dalang menyebutnya aji Kemayan. Sebenarnya sebutan itu keliru, karena kemayan yang berasal dari kata "maya" adalah aji untuk membuat pemilik ilmu itu menjadi tidak terlihat oleh mata biasa. Maya artinya, "tak terlihat". Jadi, yang benar adalah aji Kawastram.

     Sang Hyang Antaboga pernah berbuat khilaf ketika dalam sebuah lakon carangan terbujuk hasutan Prabu Boma Narakasura, cucunya, untuk meminta Wahyu Senapati pada Bhatara Guru. Bersama dengan menantunya, Prabu Kresna, yang suami Dewi Pertiwi. Antaboga lalu berangkat ke kahyangan. Ternyata Bhatara Guru tidak bersedia memberikan wahyu itu pada Boma, karena menurut pendapatnya Gatotkaca lebih pantas dan lebih berhak. Selisih pendapat yang hampir memanas ini karena Sang Hyang Antaboga hendak bersikeras, tetapi akhirnya silang pendapat itu dapat diredakan oleh Batara Narada. Wahyu Senapati tetap diperuntukkan bagi Gatotkaca.

     Nama Antaboga atau Anantaboga artinya "kelokannya tidak mengenal batas". Kata an artinya tidak; anta artinya batas; sedangkan boga atau bhoga atinya kelokan. Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya adalah ular naga yang besarnya luar biasa.

Antareja
     ANANTAREJA atau ANTAREJA adalah putra Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Nagagini, putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari Kahyangan Saptapratala. Ia memunyai dua orang saudara lelaki lain ibu, bernama: Gatotkaca (putra Bima dengan Dewi Arimbi) dan Arya Anantasena (putra Bima dengan Dewi Urangayu).

     Sejak kecil Anatareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar bumi). Ia memiliki ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, makhluk apa pun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi pemberian ibunya, yang bisa menjauhkannya dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.
     Anantareja memiliki sifat: jujur, pendiam, berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban, dan besar kepercayaan kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.

     Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang Perang Bharatayuda atas kemauannya sendiri dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam Perang Bharatayuda.

Antasena
     ANTASENA atau ANANTASENA adalah Putra Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Urangayu, putri Hyang Mintuna (Dewa Ikan Air Tawar) di Kisiknarmada. Ia memunyai dua orang saudara seayah lain ibu, yaitu: Anantareja (putra Dewi Nagagini) dan Gatotkaca (putra Dewi Arimbi).

     Sejak kecil Anantasena tinggal bersama ibu dan kakeknya di Kisiknarmada. Seluruh badannya berkulit sisik ikan/udang hingga kebal terhadap senjata. Anantasena dapat hidup di darat dan di dalam air. Ia memunyai mulut sakti, makhluk apa pun yang tersentuh dan terkena bisanya akan menemui kematian. Anantasena juga memiliki pusaka Cupu Madusena, yang dapat mengembalikan kematian di luar takdir. Ia juga tidak dapat mati selama masih bersinggungan dengan air atau uap air.

     Anantasena berwatak jujur, terus terang, bersahaja, berani kerena membela kebenaran, tidak pernah berdusta. Setelah dewasa, Anantasena menjadi raja di negara Dasarsamodra, bekas negaranya Prabu Ganggatrimuka yang mati terbunuh dalam peperangan. Anatasena meninggal sebelum Perang Bharatayuda. Ia mati moksa (lenyap dengan seluruh raganya) atas kehendak/kekuasaan Sang Hyang Wenang.

Arimbi
     DEWI ARIMBI atau HIDIMBI (Mahabharata) adalah putri kedua Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani, dengan Dewi Hadimba. Ia memunyai tujuh orang saudara kandung: Arimba/Hidimba, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa, dan Kalabendana.

      Dewi Arimbi menikah dengan Bima/Werkudara, salah seorang Pandawa, putra Prabu Pandu, raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti. Dari perkawinan itu ia berputrakan Gatotkaca.

     Dewi Arimbi menjadi raja negara Pringgandani, menggantikan kedudukan kakaknya, Prabu Arimba, yang tewas dalam peperangan melawan Bima. Namun karena ia lebih sering tinggal di Kesatrian Jodipati mengikuti suaminya, kekuasaan negara Pringgandani diwakilkan kepada adiknya, Brajadenta sampai Gatotokaca dewasa dan diangkat menjadai raja negara Pringgandani bergelar Prabu Kacanegara.

     Dewi Arimbi memunyai kesaktian: dapat beralih rupa dari wujudnya raksasa menjadi putri cantik jelita. Ia memunyai sifat jujur, setia, berbakti, dan sangat sayang terhadap putranya. Ia gugur di medan Bharatayuda membela putranya, Gatotokaca yang gugur karena panah Kunta milik Adipati Karna, Raja Awangga.

Arjuna
     ARJUNA adalah putra Prabu Pandu Dewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita dari Mandura. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara; sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.

     Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa, dan menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana.

     Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).

     Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, antara lain: keris Kiai Kalanadah, panah Sangkali (dari Resi Drona), panah Candranila, panah Sirsha, keris Kiai Sarotama, keris Kiai Baruna, keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), terompet Dewanata, cupu Minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani), dan kuda Ciptawilaha dengan cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimilikinya antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih, dan Asmaragama.
     Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak, yakni:
1. Dewi Sumbadra, berputra Raden Abimanyu;
2. Dewi Larasati, berputra Raden Sumitra dan Bratalaras;
3. Dewi Srikandi, tidak berputra;
4. Dewi Ulupi/Palupi, berputra Bambang Irawan;
5. Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti;
6. Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka;
7. Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni;
8. Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga;
9. Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati;
10. Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma;
11. Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa;
12. Dewi Maeswara;
13. Dewi Retno Kasimpar;
14. Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada;
15. Dewi Dyah Sarimaya.

     Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: kampuh/kain Limarsawo, ikat pinggang Limarkatanggi, gelung Minangkara, kalung Candrakanta, dan cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, Raja Paranggelung). Ia juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Permadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bhatara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara (perayu ulung), dan Margana (suka menolong).

     Arjuna memiliki sifat: cerdik, pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani, dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat Pandawa yang lain.

Arya Prabu Rukma
     ARYA PRABU RUKMA adalah putra Prabu Basukunti, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Ia memunyai tiga orang saudara kandung bernama: Arya Basudewa, Dewi Kunti/Dewi Prita dan Arya Ugrasena.
     Arya Prabu Rukma menikah dengan Dewi Rumbini, putra Prabu Rumbaka, raja Negara Kumbina. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh dua orang putra: Dewi Rukmini dan Arya Rukmana. Secara tidak resmi Arya Prabu Rukma juga mengawini Ken Sagupi, swaraswati keraton Mandura, dan memunyai seorang putri bernama Ken Rarasati/Dewi Larasati.

     Arya Prabu Rukma mempunyai watak: berani, cerdik pandai, trengginas, mahir mempergunakan senjata panah dan ahli strategi perang. Ia menjadi raja negara Kumbina menggantikan mertuanya, Prabu Rumbaka, dan bergelar Prabu Bismaka, Prabu Wasukunti atau Prabu Hirayana.

     Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Bismaka/Arya Prabu Rukma gugur di medan perang melawan Prabu Bomanarakasura, raja negara Surateleng atau Trajutisna.

Aswatama
     Bambang ASWATAMA adalah putra Resi Drona dari padepokan Sokalima, dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda Sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana/Resi Drona terbang menyeberangi lautan.

     Ketika ayahnya, Resi Drona menjadi guru Keluarga Pandawa dan Kurawa di negara Astina, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat: cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Cundamanik.

     Karena kecewa dengan sikap Prabu Duryudana yang terlalu membela Prabu Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Adipati Karna. Aswatama memutuskan mundur dari kegiatan Bharatayuda. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Astina, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Astina. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (pembunuh ayahnya, Resi Drona), Pancawala (putra Prabu Puntadewa), Dewi Banowati (janda Prabu Duryudana), dan Dewi Srikandi, sebelum akhirnya ia mati oleh Bima, badannya hancur dipukul gada Rujakpala.

Bagaspati
     Bagawan BAGASPATI yang sewaktu mudanya bernama Bambang Anggana Putra, adalah putra Resi Jaladara dari Pertapaan Dewasana, dengan Dewi Anggini, keturunan Prabu Citragada, raja negara Magada. Pada mulanya Bambang Anggana Putra berwujud satria tampan, tetapi karena terkena kutukan Sang Hyang Manikmaya tatkala akan memperistri Dewi Darmastuti wujudnya berubah menjadi raksasa. Ia kemudian menjadi brahmana di pertapaan Argabelah dan bergelar Bagawan Bagaspati.

      Bagaspati sangat sakti. Ia memiliki aji Candrabirawa, sehingga tidak bisa mati kecuali atas kemauannya sendiri. Ia menikah dengan Dewi Dharmastuti, seorang  hapsari/bidadari, dan berputra Dewi Pujawati. Bagaspati memunyai watak sabar, ikhlas, percaya akan kekuasaan Tuhan, rela berkorban, dan sangat sayang pada putrinya. Ia bersahabat karib dengan Prabu Mandrapati, raja negara Mandara yang merupakan saudara seperguruan.

     Akhir riwayatnya diceritakan, karena rasa cintanya dan demi kebahagiaan putrinya, Dewi Pujawati, Bagaspati rela mati dibunuh Narasoma, menantunya sendiri. Sebelum tewas, ia menyerahkan aji Candrabirawa kepada Narasoma.

Bagong
     BAGONG terjadi dari bayangan Sang Hyang Ismaya atas sabda Sang Hyang Tunggal, ayahnya. Ketika Sang Hyang Ismaya akan turun ke Arcapada, ia mohon kepada ayahnya seorang kawan yang akan menemaninya, karena Ismaya yang ditugaskan mengawasi trah keturunan Witaradya merasa tidak sah apabila sesuatu persaksian hanya dilakukan oleh seseorang. Sang Hyang Tunggal kemudian menyuruh Sang Hyang Ismaya menoleh ke belakang, tahu-tahu telah ada seseorang yang bentuk tubuhnya hampir menyerupai dirinya.

     Dalam pedalangan Jawa, Bagong dikenal pula dengan nama Bawor, Carub, Astrajingga (di Jawa Barat: Cepot) . Ia mempunyai tabiat: lagak dan katanya kekanak-kanakan, lucu, suara besar, tindakannya seperti orang bodoh, kata-katanya menjengkelkan, tetapi selalu tepat. Bagong menikah dengan Endang Bangnyawati, anak Prabu Balya raja Gandarwa di Pucangsewu.

     Perkawinannya itu bersamaan dengan perkawinan Semar dengan Dewi Kanistri dan perkawinan Resi Manumayasa dengan Dewi Kaniraras, kakak Dewi Kanistri, putri Bhatara Hira. Seperti halnya dengan Semar, Bagong berumur sangat panjang, ia hidup sampai zaman Madya.

Baladewa
     Prabu BALADEWA yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra (Maekah: Jawa). Ia lahir kembar bersama adiknya, Narayana dan memunyai adik lain ibu bernama Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga memunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.

     Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir dalam olah ketrampilan mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryudana berguru kepadanya. Baladewa memunyai dua pusaka sakti: Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Bhatara Brahma. Ia juga memunyai kendaraan gajah bernama Kiai Puspadenta.

    Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati/Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra: Wisata dan Wimuka.

     Prabu Baladewa diyakini sebagi titisan Sang Hyang Basuki , Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai Perang Bharatayuda, Prabu Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Astina setelah Prabu Kalimataya/Prabu Puntadewa, dengan gelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Yadawa.

Banowati
     Dewi BANOWATI adalah putri Prabu Salya, raja negara Mandaraka dengan permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati putri tunggal Bagawan Bagaspati dari pertapaan Argabelah. Ia memunyai empat saudara kandung: Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Arya Burisrawa, dan Bambang Rukmarata. Dewi Banowati menikah dengan Prabu Suyudana/Duryadana, raja negara Astina, putra Prabu Drestarasta dengan Dewi Gandari. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh dua orang putra: Leksmana Mandrakumara dan Dewi Laksmanawati.

     Dewi Banowati berwatak: jujur, penuh belas kasih, jatmika (selalu dengan sopan santun), dan agak sedikit genit. Akhir riwayatnya diceritakan: ia mati dibunuh oleh Aswatama putra Resi Durna, setelah berakhirnya Perang Bharatayuda, saat menunggu boyongan/pindahan keluarga Pandawa dari Negara Amarta ke negara Astina.

Basudewa
     Prabu BASUDEWA adalah putra sulung Prabu Basukunti raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Ia memunyai tiga orang saudara kandung masing-masing: Dewi Prita/Dewi Kunti, Arya Prabu Rukma, dan Arya Ugrasena.

     Prabu Basudewa memunyai tiga orang istri dan empat orang putra. Dengan permaisuri Dewi Mahira/Maerah ia berputra Kangsa. Kangsa sebenaranya putra Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang dengan beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan berhasil mengadakan hubungan asmara dengan Dewi Mahira.

     Dengan permaisuri Dewi Mahindra/Maerah, Prabu Basudewa memeroleh dua orang putra: Kakrasana dan Narayana. Dari permaisuri Dewi Badrahini ia berputra Dewi Wara Sumbadra/Dewi Lara Ireng. Secara tidak resmi, Prabu Basudewa juga mengawini Ken Sagupi, swaraswati Keraton Mandura, dan memeroleh seorang putra bernama Arya Udawa.

     Prabu Basudewa sangat sayang kepada keluarganya. Ia pandai olah keprajuritan dan mahir memainkan senjata panah dan lembing. Setelah usia lanjut, ia menyerahkan Kerajaan Mandura kepada putranya, Kakrasana, dan hidup sebagai pendeta di Pertapaan Randugumbala. Prabu Basudewa meninggal saat negara Mandura digempur Prabu Sitija/ Bomanarakasura raja Negara Surateleng.

Basukesti
     Arya BASUKESTI adalah putra Prabu Basupati/Basuparicara, raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Anganti/Dewi Girika, putri Bagawan Kolagiri dengan Dewi Suktimati. Ia memunyai dua orang saudara kandung bernama Arya Basunanda dan Arya Basumurti.

     Arya Basukesti menjadi raja negara Wirata menggantikan kedudukan kakaknya, Prabu Basunanda yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana. Atas kemurahan hatinya, Prabu Basukesti mengizinkan dan menyerahkan puncak Gunung Retawu di kawasan gunung Saptaarga kepada Manumayasa, putra Bhatara Parikenan dengan Dewi Brahmananeki, membagun sebuah padepokan/pertapaan.

     Prabu Basukesti pernah meninggalkan takhta Wirata dan pergi bertapa sebagai ruwat atas nasibnya, karena setiap memiliki permaisuri selalu saja meninggal. Untuk sementara takhta kerajaan diserahkan kepada Arya Basumurti. Beberapa tahun kemudian, Prabu Basukesti kembali ke istana dan mendapat permaisuri bernama Dewi Adrika/Dewi Pancawati. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra: Dewi Basuwati, Dewi Basutari, dan Arya Basukiswara.

     Prabu Basukesti meninggal dalam usia lanjut. Sebagai penggantinya, Arya Basukiswara diangkat menjadi raja negara Wirata.

Basukiswara
     Arya BASUKISWARA adalah putra bungsu prabu Basukesti, raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Adrika/Dewi Pancawati. Ia memunyai dua orang kakak kandung masing-masing: Dewi Pasuwati dan Dewi Basutari.

     Basukiswara menjadi raja Wirata menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu Basukesti. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana, adil, dan sangat memerhatikan kehidupan rakyatnya. Prabu Basukiswara juga menjalin hubungan yang sangat erat dengan Resi Manumayasa dari padepokan Retawu di Gunung Saptaarga.

     Prabu Basukiswara menikah dengan Dewi Kiswati, dan memunyai dua orang putra bernama: Arya Basuketi dan Arya Kistawan. Merasa usianya sudah lanjut dan tak mampu lagi memerintah, ia memutuskan untuk hidup sebagai brahmana. Tahta dan negara Wirata diserahkan kepada putra sulungnya, Arya Basuketi.

Basukunti
     Prabu BASUKUNTI atau WASUKUNTI yang waktu mudanya bernama Suradewa, adalah putra sulung Prabu Wasukunteya, raja Negara Mandura dengan permaisuri Dewi Sungganawati. Ia memunyai adik kandung bernama Kuntadewa, yang setelah menjadi raja negara Boja bergelar Prabu Kuntiboja.

     Prabu Basukunti menikah dengan Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh empat orang putra masing-masing: Arya Basudewa, Dewi Prita/Dewi Kunti, Arya Prabu Rukma dan Arya Ugrasena.

     Prabu Basukunti memunyai perwatakan: berani, cerdik pandai, arif bijaksana, dan suka menolong. Setelah usianya lanjut, ia menyerahkan takhta Mandura kepada putra sulungnya, Arya Basudewa, dan hidup sebagai brahmana sampai meninggal.

     Basunanda Arya Basunanda menjadi raja negara Wirata menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu Basupati yang mengundurkan diri. Prabu Basunanda menikah dengan Dewi Swakawati, dan memunyai dua orang putra bernama: Dewi Basundari dan Arya Basundara.

      Prabu Basunanda tidak lama memerintah negara Wirata. Ia mengikuti jejak Prabu Basupati, mengundurkan diri dari takhta kerajaan untuk selanjutnya hidup sebagai brahmana. Karena waktu itu putra-putranya masih kecil, takhta Wirata diserahkan kepada adiknya, Arya Basukesti.

Basupati
      Prabu BASUPATI dikenal pula dengan nama Prabu Basuparicara (Mahabharata). Ia putra Bhatara Srinada/Prabu Basurata, raja negara Wirata yang pertama dengan permaisuri Dewi Bramaniyuta, putri Bhatara Brahma. Prabu Basupati memunyai adik kandung bernama Bramananeki yang menikah dengan Bambang Parikenan, putra Bhatara Bremani/Brahmanaresi dengan Dewi Srihuna/Srihunon.

     Karena ketekunannya bertapa, Prabu Basupati menjadi sangat sakti dan tahu segala bahasa binatang. Ia mendapat anugerah dari Bhatara Indra berwujud sebuah kereta sakti bernama Amarajaya lengkap dengan bendera perangnya yang membuatnya kebal terhadap segala macam senjata. Dengan kereta sakti Amarajaya, Prabu Basupati menaklukkan tujuh negara, masuk ke dalam wilayah kekuasaan negara Wirata.

     Prabu Basupati menikah dengan Dewi Angati atau Dewi Girika (Mahabharata), putri Bagawan Kolagiri dengan Dewi Suktimati. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh tiga orang putra bernama: Arya Basunada, Arya Basukesti, dan Arya Bamurti. Prabu Basupati memerintah negara Wirata sampai berusia lanjut. Ia menyerahkan tahta Kerajaan Wirata kepada Arya Basunada, kemudian hidup sebagai brahmana sampai meninggal dalam keadaan bermudra.

Basurata
     Prabu BASURATA adalah raja negara Wirata yang pertama. Pada waktu mudanya ia bernama Bathara Srinada. Prabu Basurata adalah putra Bhatara Wisnu yang bertakhta di Kahyangan Untarasegara, dengan permaisuri Dewi Srisekar. Ia memunyai dua orang saudara kandung bernama: Bhatara Srigati dan Bhatara Srinadi.
     Prabu Basurata menikah dengan Dewi Bramaniyuta, Putri Bathara Brahma dengan Dewi Sarasyati dari Kahyangan Daksinageni. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh dua orang putra: Arya Basupati/Basuparicara dan Dewi Bramananeki.

     Setelah menikahkan putrinya, Dewi Brahmananeki dengan Bambang Parikenan, putra Bhatara Bremani/Brahmanaresi (putra Bhatara Brahma dengan Dewi Raraswati) dengan Dewi Srihuna (putri Bhatara Wisnu dengan Dewi Sripujayanti), Prabu Basurata  berkeinginan moksa. Ia kemudian menyerahkan takhta dan negara Wirata kepada putranya, Arya Basupati.

Bima
     BIMA atau WERKUDARA dikenal pula dengan nama; Balawa, Bratasena, Birawa, Dandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, atau Wijasena. Ia putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa.

Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur. Ia memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol.

     Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh/kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem.
Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :

1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,
2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena
Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.

Bogadatta
     BOGADATTA atau Bogadenta adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Ia bersaudara 100 orang -- {99 orang pria dan 1 orang wanita} yang disebut Sata Kurawa. Diantaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah Duryudana (raja Negara Astina), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Durmuka, Durmagati, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durgempo, Gardapati (raja Negara Bukasapta), Gardapura , Kartamarma, (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

     Bogadatta menjadi raja di negara Turilaya. Ia pandai bermain gada. Selain sakti, Bogadatta juga memiliki kendaraan gajah bernama Murdiningkung dengan srati/pawang seorang prajurit wanita bernama Murdiningsih. Di medan peperangan, ketiganya merupakan pasangan yang menakutkan lawan dan tak terkalahkan. Bila salah satu diantara mereka mati, dan diloncati salah satu diantara yang hidup, maka yang mati akan hidup kembali. 

     Dalam perang Bharatayuda, Bogadatta maju kemedan peperangan bersama gajah Murdiningkung dan srati Murdiningsih. Mereka semua mati dalam peperangan oleh panah Trisula milik Arjuna.

Bomantara
     RABU BOMANTARA adalah raja negara Trajutisna/Prajatisa. Ia masih keturunan Bathara Kalayuwana, putra Bathara Kala dengan Bathari Durga/Dewi Pramuni dari kahyangan Setragandamayit. Karena ketekunanya bertapa, ia menjadi sangat sakti. Berwatak angkara murka, kejam, bengis dan selalu menurutkan kata hatinya.
Prabu Bomantara pernah menyerang Suralaya dan mengalahkan para Dewa. Ia kemudian menyerang negara Gowasiluman, menewaskan Prabu Arimbaji untuk menguasai wilayah hutan Tunggarana. Belum puas dengan kekuasaan yang dimiliki, Prabu Bomantara kemudian menyerang negara Surateleng.

  Akhirnya Prabu Bomantara tewas dalam pertempuran melawan Prabu Narakasura yang waktu mudanya bernama Bambang Sitija, raja negara Surateleng, putra Prabu Kresna dengan Dewi Pretiwi. Arwahnya manunggal dalam tubuh Prabu Sitija. Negara Surateleng dan Prajatisa oleh Prabu Sitija/Narakasura dijadikan satu, Prabu Sitija kemudian bergelar Prabu Bomanarakasura.

Brajadenta
     BRAJADENTA adalah putra ketiga Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung bernama; Arimba / Hidimba, Dewi Arimbi, Arya Prabakesana, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

      Brajadenta berwatak keras hati, ingin menangnya sendiri, berani serta ingin selalu menurutkan kata hatinya. Brajadenta sangat sakti. Oleh kakaknya, Dewi Arimbi, Brajadenta ditunjuk sebagai wakil raja memegang tampuk pemerintahan negara Pringgandani selama Dewi Arimbi ikut suaminya, Bima tinggal di Jadipati.

     Akhir riwayatnya diceritakan, karena tidak setuju dengan pengangkatan Gatotkaca, putra Dewi Arimbi dengan Bima sebagai raja Pringgandani, Brajadenta dengan dibantu oleh ketiga adiknya, Brajamusti, Brajalamatan dan Brajawikalpa, melakukan pemberontakan karena ingin secara mutlak menguasai negara Pringgandani.
    
     Pemberontakannya dapat ditumpas oleh Gatotkaca dengan tewasnya Brajalamatan dan Brajawikalpa. Brajadenta dan Brajamusti berhasil melarikan diri dan berlindung pada kemenakannya, Prabu Arimbaji, putra mendiang Prabu Arimba yang telah menjadi raja di negara Gowasiluman di hutan Tunggarana.
 
     Dengan bantuan Bathari Durga, Brajadenta kembali memasuki negara Pringgandini untuk membunuh Gatotkaca. Usahanya kembali menghalami kekagalan. Brajadenta akhirnya tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca. Arwahnya menjelma menjadi ajian/keaktian dan merasuk/menunggal dalam gigi Gatotkaca. Sejak itu Gatotkaca memiliki kesaktian; barang siapa kena gigitannya pasti binasa.

Brajalamatan
     BRAJALAMATAN adalah putra keenam Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung, masing-masing bernama ; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Arya Prabakesa, Brajamusti, Brajawikalpa dan Kalabendana.

     Brajalamatan berwatak keras hati dan agak berangasan, mudah marah, pemberani dan sangat sakti. Brajalamatan sangat menentang keputusan Dewi Arimbi yang akan menyerahkan tahta kerajaan Pringgandani kepada Gatotkaca, putranya dengan Bima. Karena itu Brajalamatan ikut mendukung dan terlibat langsung gerakan pemberontakan yang dilakukan Brajadenta dan Brajamusti dalam upaya merebut tahta kerajaan Pringgandani dari tangan Gatotkaca.

     Dalam peperangan perebutan kekuasaan itu, Brajalamatan akhirnya mati di tangan Gatotkaca. Arwahnya kemudian menjelma menjadi ajian/kesaktian manunggal di tangan kiri Gatotkaca.

Brajamusti
     BRAJAMUSTI adalah putra ke-lima Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung bernama; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

     Brajamusti mempunyai sifat mudah naik darah, agak bengis, keras hati dan ingin menang sendiri. Ia sangat sakti. Bersama kakaknya, Brajadenta dan kedua adiknya, Brajalamantan dan Brajawikalpa, ia melakukan pemberontakan merebut tahta negara Pringgandani dari kekuasaan Dewi Arimbi. Ketika pemberontakan gagal dengan tewasnya Brajalamatan dan Brajawikalpa oleh Gatotkaca, Brajamusti dan Brajadenta melarikan diri, berlindung pada kemenakannya, Prabu Arimbaji, putra mendiang Prabu Arimba yang telah menjadi raja negara Guwasiluman di hutan Tunggarana.

     Dengan bantuan Bathari Durga, Brajamusti kembali beraniat membunuh Gatotkaca melalui tangan ketiga. Ia menjelma menjadi Gatotkaca palsu dan menganggu Dewi Banowati, istri Prabu Duryudana, raja negara Astina. Namun perbuatanya terseburt dapat dibongkar oleh Gatotkaca. Akhirnya Brajamusti tewas dalam petempuran melawan Gatotkaca, dan arwahnya menjadi ajian/kesaktian merasuk/menunggal dalam tangan kanan Gatotkaca

Brajawikalpa
     BRAJAWIKALPA adalah putra ketujuh Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung masing-masing bernama; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Arya Prabakesa, Brajamusti, Brajalamatan dan Kalabendana.

     Brajawikalpa mempunyai sifat perwatakan ; pemberani, tangguh, setia, sedikit serakah dan tidak mempunyai pendirian yang tetap. Ia juga ikut mendungkung Brajadenta dan saudara-saudaranya yang lain ketika menentang Dewi Arimbi yang akan mengangkat Gatotkaca sebagai raja Pringgandani. Brajawikalpa juga ikut terlibat langsung pemberontakan yang dipimpin oleh Brajadenta dan Brajamusti, walau sebelumnya telah diperingatkan oleh Kalabendana.

     Dalam peperangan pemberontakan tersebut, Brahjawikalpa tewas dalam pertempuan melawan Gatotkaca. Arwahnya menjelma menjadi ajian/kesaktian berujud perisai yang manunggal dalam punggung Gatotkaca.

Burisrawa
     ARYA BURISRAWA adalah putra ke-empat Prabu Salya, raja negara Mandaraka dengan permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati, putri tunggal Bagawan Bagaspati dari pertapaan Argabelah. Ia mempunyai empat orang saudara kandung masing-masing bernama ; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati dan Bambang Rukmarata.

     Burisrawa berwujud setengah raksasa, gagah perkasa dan sangat sakti. Ia berwatak sombong, senang menurutkan kata hatinya, pendendam, ingin selalu menang sendiri, senang membuat keonaran dan membuat peristiwa - peristiwa yang penuh dengan kekerasan.

     Burisrawa menikah dengan Dewi Kiswari, putri Prabu Kiswaka, raja negara Cedisekar/Cindekembang dan berputra Arya Kiswara. Ia sangat akrab hubungannya dengan Prabu Baladewa, raja Mandura, Prabu Duryudana, raja Astina dan Adipati Karna, raja Awangga karena hubungan saudara ipar.

      Dalam perang Bhratayuda, Burisrawa berada di pihak keluarga Kurawa. Ia gugur dalam peperangan melawan Arya Setyaki, putra Prabu Setyajid/Ugrasena, raja negara Lesanpura.

Cakil
     CAKIL atau Gendirpenjalin, berwujud raksasa dengan gigi tonggos berpangkat tumenggung. Tokoh Cakil hanya dikenal dalam ceruita pedalangan Jawa dan selalu dimunculkan dalam perang kembang, perang antara satria melawan raksasa yang merupakan lambang nafsu angkara murka.

      Cakil memiliki sifat; pemberani, tangkas, trengginas, banyak tingkah dan pandai bicara. Ia berwatak kejam, serakah, selalu menurutkan kata hati dan mau menangnya sendiri. Cakil selalu ada dan hidup di setiap negara raksasa. Ia merupakan raksasa hutan (selalu tinggal di hutan) dengan tugas merampok para satria atau merusak dan mengganggu ketenteraman kehidupan para brahmana di pertapaan.

     Dalam setiap peperangan Cakil mesti menemui ajalnya, karena ia dan anak buahnya merupakan lambang nafsu angkara murka manusia yang memang harus dilenyapkan.

Dadungawuk
     DADUNGAWUK adalah raksasa kerdil anak buah Bathari Durga, raja makhluk siluman yang bertahta di Kahyangan Setragandamayit. Dadungawuk tinggal di hutan Krendayana, bertugas menggembalakan kerbau/Andanu (Jawa) milik Bathari Durga.

    Kerbau Andanu berjumlah 40 ekor, semuanya berwarna hitam, berkaki putih (=pancal panggung/Jawa). Karena indahnya pernah dipinjam keluarga Pandawa untuk memenuhi persyaratan permintaan Dewi Sumbadra, putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini dari negara Mandura, ketika dipinang oleh Arjuna. Pada mulanya Dadungawuk menolak. Tetapi setelah dikalahkan oleh Bima, Dadungawuk bersedia menyerahkan Andanu, yang akan digunakan untuk memeriahkan pawai perkawinan Dewi Subadra dengan Arjuna yang pestanya diselenggarkan di negara Dwarawati. Atas seijin Bathari Durga, Dadungawuk sendiri bertindak sebagai pawangnya. Setelah pesta perkawinan selesai, Dadungawuk dan Andanu kembali kehutan Kerndayana.

Dananjaya
     ARYA DANANJAYA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja Jin negara Madukara, di kawasan hutan Mertani. Ia mempunyai dua kakak kandung, yaitu : Prabu Yudhistira, raja Jin negara Mertani dan Arya Dandunwacana yang bersemayam di kesatrian Jodipati. Arya Dananjaya juga mempunyai dua saudara seayah lain ibu masing-masing bernama ; Ditya Sapujagad yang bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.

     Arya Dananjaya sangat sakti. Ia memiliki pusaka berupa jala sutra yang berwujud emas. Bersama kakaknya, Arya Danduwacana, Arya Dananjaya menjadi benteng dan senapati perang negara Mertani, sebuah kerajaan siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker. Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa, putra Prabu Pandu raja negara Astina, berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton yang diperoleh Arjuna dari Bagawan Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani, Arya Dananjaya yang kalah dalam peperangan melawan Arjuna, akhirnya menjelma/sejiwa dengan Arjuna. Kepada Arjuna ia menyerahkan ; Nama Dananjaya menjadi nama sebutan Arjuna, pusaka Jala Sutra Emas, negara Madukara beserta seluruh balatentaranya, dan memberi saran kepada Arjuna untuk mengawini Dewi Ratri, putri Prabu Yudhistira dengan Dewi Rahina yang sesungguhnya pewaris tunggal negara Madukara.

Dandunwacana
      ARYA DANDUNWACANA adalah adik Prabu Yudhistira, yang menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja Jin negara Mertani. Ia bersemayam di kesatrian Jodipati. Arya Dandunwacana mempunyai adik kandung bernama ; Arya Dananjaya yang bersemayam di kesatiran Madukara. Arya Dandunwacana juga mempumyai dua saudara seayah lain ibu masing-masing bernama ; Ditya Sapujagad, bertempat tinggal di kesatiran Sawojajar dan Ditya Sapulebu yang bertempat tinggal di kesatiran Baweratalun.

     Arya Dandunwacana bertubuh tinggi besar, gagah perkasa. Berwatak pemberani, jujur, setia dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Ia bersama adik-adiknya menjadi senapati perang negara Mertani, sebuah kerajaan siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan sebuah hutan belantara yang angker.

     Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa, putra Prabu Pandu raja negara Astina, berkat daya kesaktian Minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian dari Bagawan Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani, Arya Dandunwacana yang kalah dalam peperangan melawan Bima/Werkudara akhirnya menjelma/sejiwa dengan diri Bima. Kepada Bima, Arya Dandunwacana menyerahkan; hak memakai nama Arya Dandunwacana, negara Jodipati, gada pusaka bernama Rujakpala dan seluruh balatentaranya antara lain Patih Gagakbaka dan para putra Slagahima antara lain ; Podangbinurehan, Dandangminangsi, Jangettinelon, Celengdemalung, Menjanganketawang dan Cecakandon.

Danurwenda
     ARYA DANURWENDA adalah putra Arya Anantareja, raja negara Jangkarbumi dengan permaisuri Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa dari negara Tasikraja. Ketika berlangsungnya perang Bharatayuda, Arya Danurwenda masih kecil. Ia tetap tinggal di kahyangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Anantaboga. Danurwenda memiliki sifat dan perwatakan; jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaannya kepada Sang Maha Pencipta. Ia berkulit Napakawaca, sehingga kebal terhadap segala macam senjata. Danurwenda juga mewarisi cincin Mustikabumi dari ayahnya, Anantareja, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, da n dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir.

     Arya Danurwenda menikah dengan Dewi Kadriti, cucu Prabu Kurandageni dari negara Tirtakandasan. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Nagapratala. Danurwenda tidak bersedia menjadi raja negara Jangkarbumi, tetapi ia memilih menjadi patih negara Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit. Negara Jangkarbumi diserahkan kepada putranya, Nagapratala.

Darmahambara
     PRABU DARMAHAMBARA adalah raja negara Giyantipura. Permaisurinya bernama Dewi Swargandini, dan mempunyai tiga orang putri masing-masing bernama; Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika/Ambiki.
Prabu Darmahambara pernah menyelenggarakan sayembara tanding pilih menantu untuk dua orang putrinya, Dewi Ambika dan Dewi Ambiki. Putri sulungnya, Dewi Amba tidak ikut dipertaruhkan karena sebelunya telah bertunangan dengan Prabu Citramuka, raja negara Srawantipura.

     Sayembara tanding dimenangkan oleh Dewabrata/Bisma dari negara Astina setelah mengalahkan dua raksasa kembar,
Wahmuka dan Arimuka yang menjadin jago negara Giyantipura.
Ketiga putri Prabu Darmahambara mengalami nasib yang berbeda. Dewi Amba secara tidak sengaja tewas oleh Dewabrata. Dewi Ambika menikah dengan Prabu Citragada dan Dewi Ambiki dengan Prabu Wicitrawirya, keduanya putra Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini dari negara Astina.

     Setelah Prabu Citragada dan Prabu Wicitrawirya meninggal, Dewi Ambika menikah dengan Arya Drestarasta dan Dewi Ambiki dengan Pandu, keduanya putra Dewi Durgandini dengan Bagawan Abiyasa, dari pertapaan Retawu. Dewi Ambika menurunkan keluarga Kurawa sedangkan Dewi Ambiki menurunkan keluarga Pandawa

Dewayani
      DEWI DEWAYANI adalah nenek-moyang keluarga wangsa Yadawa, Wresni dan Andaka. Ia merupakan putri tunggal Resi Sukra dengan Dewi Jayanti, putri Sanghyang Indra. Resi Sukra adalah brahmana mahasakti yang menjadi guru para daitya/raksasa di negara Sakiya. Karena menghendaki kemenangan para daitya, Resi Sukra bertapa memuja Bathara Prameswara selama l.000 tahun dan mendapat ilmu Sanjiwani, mantra sakti yang dapat menghidupkan orang mati. Karena berselisih dengan Dewi Sarmista, putri tunggal Prabu Wrisaparwa, raja daitya negara Parwata, Dewayani meminta Resi Sukra, ayahnya agar menghukum Prabu Wrisaparma dan Dewi Sarmista yang telah menghina dan mendorongnya ke dalam lumpur.

     Karena takut terhadap kutuk pastu Resi Sukra, Prabu Wrisaparwa dan Dewi Sarmista memohon ampun dan bersedia memenuhi serta melaksanakan apa yang diminta/dikehendaki Dewayani. Dewayani meminta agar Sarmista menjadi budaknya, dan dipenuhi dengan senang hati oleh Sarmista.
Dewayani kemudian menikah dengan Prabu Yayati, raja negara Astina. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra lelaki, masing-masing bernama ; Yadu dan Turwasu.

     Kedua putranya tersebut kelak menurunkan golongan wangsa Yadawa, Wresni dan Andaka (keluarga Mandura, Lesanpura, Kumbina dan Dwarawti). Dewayani akhirnya dimadu dengan Dewi Sarmista yang diambil istri Prabu Yayati, dan berputra tiga orang lelaki, masing-masing bernama ; Druhyu, Anu dan Puru (menurunkan wangsa Kuru/Pandawa-Kurawa).

Drestadyumna
     ARYA DRESTADYUMNA atau Trustajumena adalah putra bungsu Prabu Drupada, raja negara Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini. Ia mempunyai kakak kandung dua orang masing-masing bernama; Dewi Drupadi, istri Prabu Yudhistira, raja Amarta, dan Dewi Srikandi, istri Arjuna.

     Konon Arya Drestadyumna lahir dari tungku pedupaan hasil pemujaan Prabu Drupada kepada Dewata yang menginginkan seorang putra lelaki yang dapat membinasakan Resi Drona yang telah mengalahkan dan menghinanya. Drestadyumna berwajah tampan, memiliki sifat pemberani, cerdik, tangkas dan trenginas. Ia menikah dengan Dewi Suwarni, putri Prabu Hiranyawarma, raja negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra lelaki bernama; Drestaka dan Drestara.

     Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuda. Ia tampil sebagai senapati perang Pandawa, menghadapi senapati perang Kurawa, yaitu Resi Drona. Pada saat itu roh Ekalaya, raja negara Parangggelung yang ingin menuntut balas pada Resi Drona menyusup dalam diri Drestadyumna. Setelah melalui pertempuran sengit, akhirnya Resi Drona dapat dibinasakan oleh Drestadyumna dengan dipenggal lehernya.

     Drestadyumna mati setelah berakhirnya perang Bharatayuda. Ia tewas dibunuh Aswatama, putra Resi Drona, yang berhasil menyusup masuk istana Astina dalam usahanya membunuh bayi Parikesit.

     Drona RESI DRONA atau Durna yang waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana adalah putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama ; Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani.
Resi Drona berwatak; tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta sangat mahir dalam siasat perang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).

     Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Aswatama. Ia berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.

     Dalam peran Bharatayuda Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa, setelah gugurnya Resi Bisma. Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan gelar perang. Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumna, putra Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi Drona akibat dendam Prabu Ekalaya raja negara Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumna.

Drupada
     PRABU DRUPADA yang waktu mudanya bernama Arya Sucitra, adalah putra Arya Dupara dari Hargajambangan, dan merupakan turunan ke tujuh dari Bathara Brahma. Arya Sucitra bersaudara sepupu dengan Bambang Kumbayana/Resi Drona dan menjadi saudara seperguruan sama-sama berguru pada Resi Baratmadya.

    Untuk mencari pengalaman hidup, Arya Sucitra pergi meninggalkan Hargajembangan, mengabdikan diri ke negara Astina kehadapan Prabu Pandudewanata. Ia menekuni seluk beluk tata kenegaraan dan tata pemerintahan. Karena kepatuhan dan kebaktiannya kepada negara, oleh Prabu Pandu ia di jodohkan/dikawinkan dengan Dewi Gandawati, putri sulung Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandarini dari negara Pancala. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama; Dewi Drupadi, Dewi Srikandi dan Arya Drestadyumna.

    Ketika Prabu Gandabayu mangkat, dan berputra mahkota Arya Gandamana menolak menjadi raja, Arya Sucitra dinobatkan menjadi raja Pancala dengan gelar Prabu Drupada. Dalam masa kekuasaanya, Prabu Drupada berselisih dengan Resi Drona, dan separo dari wilayah negara Pancala direbut secara paksa melalui peperangan oleh Resi Drona dengan bantuan anak-anak Pandawa dan Kurawa. Di dalam perang besar Bharatayuda, Prabu Drupada tampil sebagai senapati perang Pandawa. Ia gugur melawan Resi Drona terkena panah Cundamanik.

Drupadi
     DEWI DRUPADI atau Dewi Kresna dan dikenal pula dengan nama Pancali (Mahabharata) adalah putri sulung Prabu Drupada, raja negara Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati, Putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini. Ia mempunyai dua orang adik kandung bernama ; Dewi Srikandi dan Arya Drestadyumna.
Dewi Drupadi berwajah sangat cantik, luhur budinya, bijaksana,sabar, teliti dan setia. Ia selalu berbakti terhadap suaminya. Menurut pedalangan Jawa, Dewi Drupadi menikah dengan Prabu Yudhistira/Puntadewa, raja negara Amarta dan berputra Pancawala.

      Sedangkan menurut Mahabharata, Dewi Drupadi menikah dengan lima orang satria Pandawa, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh lima orang putra, yaitu; 1.Partawindya dari Yudhistira. 2. Srutasoma dari Bima. 3. Srutakirti dari Arjuna 4. Srutanika dari Nakula 5. Srutawarman dari Sahadewa. Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Drupadi mati moksa bersama-sama dengan kelima satria Pandawa setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

Dursala
     DURSALA adalah putra Arya Dursasana, Adipati Banjarjumut yang merupakan salah satu dari seratus orang keluarga Kurawa dengan Dewi Saltani. Ia berbadan besar, gagah dan bermulut lemar.

      Dursala mempunyai watak dan sifat; takabur, besar kepala dan senang meremehkan orang lain, ia sangat sakti. Selain pernah berguru pada Resi Drona, Dursala juga menjadi murid kesayangan Bagawan Pisaca, seorang pendeta raksasa dari pertapaan Carangwulung di hutan Wanayasa. Ia diberi Aji Gineng oleh Bagawan Pisaca yang berkhasiat kesaktian siapa saja yang digertaknya badannya akan hancur lebur.

     Dursala menikah dengan Dewi Sumini. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang diberi nama Arya Susena. Dursala tewas dalam pertempuran melawan Gatotkaca tatkala ia bermaksud menguasai negara Amarta. Badannya hancur terkena hantaman Aji Narantaka.

Dursasana
     DURSASANA adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Ia bersaudara 100 orang --{99 orang pria dan 1 orang wanita} yang disebut Sata Kurawa. Diantaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja Negara Bukasapta), Gardapura , Kartamarma, (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

       Dursasana menikah dengan Dewi Saltani, putri Adipati Banjarjungut. Dari perkawinan ini ia berputra seorang lelaki bernama Dursala. Dursasana berbadan besar, gagah dan bermulut lebar, mempunyai watak dan sifat; takabur,gemar bertindak sewenang-wenang, besar kepala, senang meremehkan dan menghina orang lain. Ia mempunyai pusaka sebuah keris yang luar biasa besarnya bernama Kyai Barla.

     Dursasana mati di medan perang Bharatayuda oleh Bima/Werkudara dalam keadaan sangat menyedihkan. Dadanya dibelah dengan kuku Pancanaka. Darah yang menyembur ditampung Bima untuk memenuhi sumpah Dewi Drupadi, yang akan dibuat kramas dan mencuci rambutnya. Anggota tubuh dan kepala Dursasana hancur berkeping-keping, dihantam gada Rujakpala.


Dursilawati
     DEWI DURSILAWATI adalah satu-satunya wanita dari 100 (seratus) orang putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Diantara 100 orang, keluarga Kurawa yang dikenal dalam pedalangan adalah; Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjar Jumut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, dan Widandini (raja negara Purantara) .